Jumat Agung di Kaima: Joune Ganda Tampil sebagai Pelayan, Bukan Sekadar Kepala Daerah

TELEGRAFNEWS—Momentum Jumat Agung di Kabupaten Minahasa Utara tidak hanya diisi dengan perenungan iman, tetapi juga menghadirkan potret kepemimpinan yang dekat dengan kehidupan spiritual masyarakat. Bupati Joune Ganda terlihat hadir dan terlibat langsung dalam Ibadah Perjamuan Kudus yang digelar di GMIM Imanuel Kaima, Wilayah Minawerot, Kecamatan Kauditan, Jumat (3/4) 2026.

Kehadiran Joune Ganda dalam ibadah tersebut tidak sekadar bersifat seremonial. Ia mengambil peran sebagai Pelayan Khusus, menunjukkan keterlibatan aktif dalam kehidupan bergereja sekaligus memperlihatkan sisi lain dari seorang kepala daerah yang berbaur dengan jemaat.

Dalam suasana ibadah yang berlangsung khidmat, Joune Ganda yang juga dikenal sebagai Penatua Remaja menyampaikan pesan reflektif kepada jemaat. Ia menekankan pentingnya menjadikan Jumat Agung sebagai titik pembaharuan iman serta penguatan nilai kasih dalam kehidupan sosial.

“Kiranya makna Jumat Agung membawa damai dan pembaharuan iman bagi kita semua. Selamat menghayati Jumat Agung,” ujar Joune Ganda.

Prosesi Perjamuan Kudus berlangsung dengan penuh penghayatan. Jemaat mengikuti rangkaian ibadah dengan tertib, sementara suasana gereja dipenuhi nuansa perenungan. Dalam momen tersebut, Joune Ganda turut membagikan roti kepada jemaat, simbol tubuh Kristus yang sarat makna spiritual.

Keterlibatan langsung ini mencerminkan pendekatan kepemimpinan yang tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memberi ruang pada pembangunan mental dan spiritual masyarakat. Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara pun terus mendorong terciptanya kehidupan sosial yang religius, harmonis, dan menjunjung tinggi nilai toleransi.

Jumat Agung menjadi pengingat akan nilai pengorbanan, kasih, dan pengampunan—tiga fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan arah pembangunan daerah yang menitikberatkan pada keseimbangan antara kemajuan dan karakter.

Partisipasi dalam kegiatan keagamaan seperti ini juga memperlihatkan upaya mempererat relasi antara pemerintah dan masyarakat. Di tengah tantangan pembangunan, fondasi moral dinilai menjadi elemen penting dalam menjaga keberlanjutan dan keharmonisan daerah.

Dengan semangat kebersamaan yang terus dijaga, Minahasa Utara diarahkan tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga kuat dalam nilai-nilai sosial dan spiritual.(man/*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *