TELEGRAFNEWS–Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menyiapkan salah satu dokumen pembangunan paling strategis: Revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2025–2044.
RTRW ini bukan hanya sekadar catatan teknis, tetapi arah besar pembangunan Bumi Nyiur Melambai selama 20 tahun mendatang. Dokumen ini menjadi kompas emas yang memandu generasi Sulut menatap masa depan dengan optimisme.
Gubernur Sulut, Yulius Selvanus Komaling (YSK), menegaskan revisi RTRW telah menempuh perjalanan panjang sejak 2018. Saat ini, prosesnya memasuki tahap ke-6 dari 10 tahapan sesuai PP Nomor 21 Tahun 2022. Usai rapat lintas sektor, Pemprov Sulut optimistis segera mengantongi surat persetujuan substansi.
“Kita semakin dekat dengan garis akhir. Saya yakin dokumen ini akan segera disahkan, dan menjadi pijakan utama pembangunan Sulut dua dekade ke depan,” ujar YSK penuh keyakinan.
Sulut: Negeri Bahari dengan Potensi Tak Berbatas
Dengan luas wilayah ±6,49 juta hektare, terdiri atas 1,45 juta hektare daratan dan 5,04 juta hektare lautan, Sulut dianugerahi garis pantai sepanjang 2.453 kilometer. Potensi maritim inilah yang menjadi landasan tata ruang baru.
“Sulut adalah negeri bahari dengan mahkota laut yang luar biasa. Tata ruang harus mampu menjawab tantangan pesisir, pulau kecil, dan potensi maritim secara berkelanjutan,” kata YSK.
Visi Besar: Gerbang Nusantara ke Asia Timur dan Pasifik
RTRW Sulut 2025–2044 memproyeksikan Sulut sebagai pintu gerbang Indonesia ke Asia Timur dan Pasifik, berfokus pada penguatan ekonomi, konektivitas infrastruktur, serta sektor unggulan pariwisata, kelautan, perikanan, dan pertanian.
“Tata ruang Sulut harus mempersiapkan rakyatnya menjemput masa depan. Visi ini adalah janji sejarah untuk mengangkat martabat daerah di level nasional dan internasional,” tegas Gubernur.
Ruang Strategis: KEK dan Infrastruktur Prioritas
Revisi RTRW mengatur struktur dan pola ruang, termasuk kawasan lindung serta kawasan budidaya. YSK menekankan pentingnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung dan Likupang sebagai motor pertumbuhan ekonomi.
“Investasi dan industri harus bergerak tanpa mengorbankan kelestarian alam. KEK adalah jantung ekonomi Sulut,” jelasnya.
Selain itu, program strategis seperti cetak sawah baru 19.527 hektare dengan nilai ekonomi Rp 2,1 triliun, pembangunan kereta trem, jembatan Bitung–Lembeh, dan kawasan metropolitan Bimindo turut masuk dalam dokumen RTRW. Selain itu RTRW Sulut dirancang selaras dengan RPJMN 2025–2029 serta RPJMD provinsi.(man/*)













