Dari “Suara Bumi” Menjadi “Suara Partai”: Kamuflase Elite di Panggung Hiburan Manado

Musik Sekadar Pemanis: Saat Wajah Elite Politik Lebih Dominan dari Judika

Manado, Telegrafnews.co- Pesta Rakyat, Panggung Siapa? Saat Nada dan ‘Warna’ Bertemu di Megamas

Oleh: Jeffery Sorongan
Manado malam ini, Sabtu 8 November 2025, bersiap untuk sebuah perhelatan akbar: “Pesta Rakyat 2: Torang Suara Bumi”. Nama yang dipilih sungguh luhur. “Pesta Rakyat” menyiratkan sebuah perayaan inklusif, milik semua warga, tanpa memandang afiliasi, warna baju, atau bendera. Sebuah selebrasi yang “menyatukan nada” dan “merayakan bersama”, demikian bunyi slogan manis di posternya.

Inisiatif ini, yang didukung oleh deretan bank BUMN notabene institusi milik negara, milik kita semua tentu patut diapresiasi. Menghadirkan hiburan gratis sekelas Judika dan Winky Wiryawan di Kawasan Megamas adalah kado indah untuk warga.

Namun, sebagai insan yang dianugerahi akal dan mata untuk mengamati, sebuah pertanyaan sederhana namun menggelitik tak bisa dihindari saat melihat materi promosi acara ini. Mata kita dipaksa bertanya: Pesta ini sejatinya pesta rakyat, atau panggung untuk “tamu utama” yang kebetulan datang dari satu “rumah” politik yang sama?
Kita tidak perlu menjadi analis politik ulung untuk melihat siapa yang diposisikan sebagai “bintang” di bagian teratas poster. Tepat di posisi sentral, di atas semua penampil, terpampang jelas wajah Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Beliau tidak sendiri. Ia diapit oleh dua elite teras partai yang sama, Herman Khaeron dan Teuku Riefky Harsya.

Di sinilah letak ironinya. Dalam sebuah “Pesta Rakyat”, figur-figur politisi ini dari satu partai spesifik mendapat porsi visual yang jauh lebih dominan dan strategis ketimbang para seniman yang sejatinya menjadi daya tarik utama acara.

Tentu, ini adalah hak panitia. Dan tentu, politisi juga bagian dari rakyat yang berhak hadir di mana saja. Namun, etika publik mengajarkan kita untuk membedakan. Ada garis tipis antara “menghadiri” acara publik dan “menjadikan” acara publik sebagai panggung representasi.

Ketika foto-foto kedatangan para elite tersebut (seperti yang terlihat dalam salah satu gambar, AHY dengan jaket birunya yang khas) beredar, persepsi itu semakin menguat. Ini bukan sekadar kunjungan biasa; ini adalah pendaratan yang terkoordinasi untuk sebuah show utama.

Kita tidak menuduh ini kampanye. Jelas bukan. Kita hanya bertanya, menggunakan hak berpendapat yang dijamin konstitusi. Wajarkah publik merasa bahwa “Pesta Rakyat” yang dibiayai (setidaknya didukung) oleh sumber daya negara (BUMN) ini, terasa sedikit terlalu “demokratis” dalam arti harfiah?

Apakah nada yang ingin “disatukan” malam ini murni nada kebersamaan, atau ada nada lain yang sengaja disisipkan untuk kepentingan elektoral di masa depan? Apakah panggung di Megamas malam ini benar-benar panggung untuk semua, atau panggung yang kebetulan sudah dicat dengan warna biru?

Rakyat yang hadir tidak bodoh. Mereka datang untuk Judika, untuk Winky, untuk kesenangan. Mereka bisa menikmati musiknya sambil tersenyum simpul, menyadari bahwa dalam setiap perhelatan gratis, selalu ada “harga” yang sedang dibayar atau “pesan” yang sedang disampaikan.

Silakan nikmati pestanya. Tapi, tak ada salahnya kita tetap kritis. Selamat berpesta, Manado. Apapun warna panggungnya malam ini.

Disclaimer: Tulisan ini adalah opini pribadi dan tidak mewakili institusi manapun. Ditulis sebagai bagian dari kebebasan berekspresi dan hak untuk berpendapat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *