TELEGRAFNEWS— Upaya merawat jejak sejarah kini menemukan momentumnya. Setelah lebih dari empat dekade tanpa pembaruan signifikan, Museum Daerah Sulawesi Utara, akhirnya berbenah dan hadir kembali sebagai ruang belajar yang lebih layak, terbuka, dan bermakna bagi masyarakat.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Sulut, Yulius Selvanus, museum ini mengalami transformasi menyeluruh. Perubahan tersebut lahir dari kebijakan strategis yang disertai langkah konkret dalam memperjuangkan dukungan anggaran.
Mantan Kepala Dinas Kebudayaan Sulut yang kini menjabat sebagai Kepala Balitbangda, Jani Lukas, mengungkapkan bahwa kondisi museum sebelumnya berada dalam situasi yang memprihatinkan.
Evaluasi dari Direktorat Jenderal Kebudayaan bahkan sempat menyatakan bahwa bangunan tersebut membutuhkan rehabilitasi total, hingga direkomendasikan untuk dipindahkan.
“Sudah sekitar 40 tahun museum ini tidak direnovasi. Bahkan sudah ada beberapa kali teguran dari pusat. Tapi di masa kepemimpinan Bapak Gubernur Mayjen (Purn) Yulius Selvanus, perhatian besar langsung diberikan. Beliau melahirkan kebijakan strategis dengan mengalokasikan anggaran yang memadai untuk renovasi total museum ini,” ujar Jani, Senin (27/4) 2026.
Ia menjelaskan, proyek revitalisasi dengan nilai anggaran lebih dari Rp14 miliar telah rampung pada Desember 2025 dan kini memasuki tahap akhir menuju peluncuran resmi. Anggaran tersebut digunakan untuk pembenahan menyeluruh, mulai dari perbaikan atap, penggantian lantai, hingga penataan ulang partisi-partisi interior bangunan agar lebih fungsional dan representatif sebagai ruang pamer dan edukasi.
“Ini tentu menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Utara. Museum ini sebelumnya seperti ditinggalkan, sekarang hadir dengan wajah baru dan manfaat yang jauh lebih besar,” tambahnya.
Kepala Dinas Kebudayaan Sulut yang baru, Yorry Lesawengan, menyampaikan bahwa pihaknya tengah memfinalisasi persiapan peresmian museum. Fokus utama saat ini adalah penataan kembali koleksi yang sempat dipindahkan selama proses renovasi berlangsung.
Penataan tersebut mencakup proses konservasi, pengelompokan koleksi berdasarkan tema, serta penyusunan narasi informatif dalam dua bahasa, yakni Indonesia dan Inggris, guna memperluas jangkauan edukasi.
“Bangunan fisik sudah selesai. Sekarang kami fokus pada penataan koleksi dan penyusunan narasi agar museum ini tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga edukatif. Target kami akhir April semua sudah rampung,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi Sulut telah mengirimkan undangan kepada Menteri Kebudayaan untuk menghadiri peresmian yang direncanakan berlangsung pada 12 Mei 2026, mendatang.
Di tengah berbagai tantangan, termasuk peristiwa gempa yang sempat terjadi, kondisi bangunan museum dipastikan tetap aman. Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak adanya kerusakan struktural, hanya perbaikan ringan seperti pengecatan yang dilakukan dalam masa pemeliharaan.
Revitalisasi ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah daerah dalam mengangkat sektor kebudayaan. Lebih dari sekadar renovasi, museum diharapkan berkembang menjadi pusat edukasi, ruang pelestarian sejarah, sekaligus destinasi budaya yang membangun kebanggaan masyarakat Sulawesi Utara.
Sekadar diketahui, renovasi musem yang diànggarkan lewat APBD-P 2025 itu adalah sebesar Rp14 miliar dan bukan Rp5 miliar seperti kabar yang beredar.(man/*)













