TELEGRAFNEWS—Kabut tipis yang menggantung di kaki Gunung Klabat menyimpan kejutan yang tak biasa. Di antara rimbun pepohonan dan tanah lembap pegunungan, sepasang burung Maleo muncul—hadir diam-diam, namun membawa pesan besar bagi upaya pelestarian alam di Sulawesi Utara.
Burung Maleo, satwa endemik yang selama ini lebih dikenal hidup di kawasan pesisir dan dataran rendah, kini terlihat di habitat yang tidak lazim. Kemunculannya di hutan dataran tinggi menghadirkan pertanyaan sekaligus harapan: apakah alam sedang membuka ruang baru bagi spesies yang kian terdesak?
Temuan ini disampaikan PT Tirta Investama Airmadidi dalam pertemuan bersama Bupati Minahasa Utara Joune Ganda dan Wakil Bupati Kevin Lotulung, sebagai bagian dari laporan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (CSR), Kamis (9/4) 2026 di Gedung Tumatenden.
Di ruang pertemuan itu, cerita tentang Maleo bukan sekadar laporan teknis. Ia menjadi narasi tentang hubungan manusia dan alam yang mulai menemukan kembali keseimbangannya.
Humas PT Tirta Investama Airmadidi, Meiske Luntungan, bersama mitra CSR Lestari Bumi Hijau yang dikoordinasikan Brivy Lotulung, menjelaskan bahwa keterlibatan banyak pihak menjadi kunci dari upaya yang berjalan selama ini.
“Program ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan di tingkat lokal,” ujar Luntungan.
Di balik kemunculan Maleo, ada kerja-kerja sunyi yang telah dilakukan: memulihkan mata air, menanam pohon, hingga membuat rorak untuk menjaga tanah tetap menyerap air. Upaya-upaya kecil yang perlahan menghidupkan kembali ekosistem.
Pasca temuan tersebut, langkah perlindungan dilakukan tanpa menyentuh atau mengganggu satwa. Sosialisasi kepada masyarakat, pemasangan papan larangan berburu, hingga kolaborasi dengan BPBD, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Unit VI, dan komunitas pecinta alam menjadi bagian dari ikhtiar menjaga ruang hidup Maleo tetap aman.
Temuan ini juga diperkuat oleh penelitian akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado melalui jurnal ilmiah berjudul “Behavioural Responses of the Endemic Maleo (Macrocephalon maleo) in a Non-Typical Upland Forest Habitat” karya Hapry F. N. Lapian, Josephine Saerang, dan Brivy Lotulung.
Hasil studi tersebut menegaskan bahwa kawasan kaki Gunung Klabat berpotensi menjadi habitat alternatif bagi Maleo—sebuah sinyal bahwa alam masih memberi kesempatan, selama manusia bersedia merawatnya.
“Kehadiran Maleo di wilayah ini sekaligus menjadi indikator bahwa upaya konservasi lingkungan yang dilakukan berbagai pihak mulai menunjukkan hasil positif,” ujar Ketua Lestari Bumi Hijau, Brivy Lotulung.
Bupati Minahasa Utara Joune Ganda pun menyambut temuan ini dengan optimisme. Ia melihatnya bukan sekadar fenomena langka, tetapi sebagai momentum untuk memperkuat kolaborasi lintas pihak dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Di tengah perubahan bentang alam dan tekanan pembangunan, kemunculan sepasang Maleo di kaki Gunung Klabat terasa seperti pengingat yang halus namun tegas: alam berbicara, dan manusia perlu mendengarkan.
Jika dijaga dengan bijak, bukan tidak mungkin lereng-lereng sunyi itu akan kembali menjadi rumah yang aman bagi kehidupan liar yang hampir terlupakan.(man/*)













