TELEGRAFNEWS—Di banyak sudut Sulawesi Utara, pohon-pohon kelapa berdiri tinggi namun menua. Di bawahnya, para petani menggantungkan hidup—dengan hasil yang tak selalu pasti. Situasi inilah yang mendorong Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara di bawah kepemimpinan Gubernur Yulius Selvanus dan Wakil Gubernur Victor Mailangkay, untuk mulai menata ulang masa depan komoditas kelapa, dari hulu hingga hilir.
Isu ini mengemuka dalam diskusi santai namun sarat makna bertajuk “Bacirita for Inovasi Sulut”, yang digelar Jurnalis Independen Pemprov Sulut (JIPS) bersama Balitbangda Sulut di Kantin PKK Provinsi Sulut, Jumat (17/4) 2026.
Di ruang sederhana itu, persoalan lama tentang kelapa dibicarakan dengan sudut pandang baru: bagaimana menjadikannya kembali sebagai sumber kesejahteraan, bukan sekadar komoditas bertahan hidup.
Staf Khusus Gubernur, Ichal Ali, menegaskan bahwa Sulawesi Utara memiliki kekuatan besar yang sering kali luput dimaksimalkan. Dengan posisi sebagai salah satu daerah penghasil kelapa terbesar di Indonesia, peluang sebenarnya terbuka lebar—jika dikelola dengan serius.
“Ini potensi besar yang sudah ada di depan mata. Tinggal bagaimana kita kelola bersama dan mencari solusi atas berbagai kendala yang dihadapi petani,” ujarnya.
Namun di lapangan, persoalan tidak sesederhana potensi. Banyak kebun kelapa yang dibiarkan tumbuh tanpa perawatan memadai. Pohon-pohon yang sudah berusia 55 hingga 60 tahun tetap dipertahankan, meski produktivitasnya terus menurun. Petani seolah terjebak dalam siklus lama: menanam, menunggu, lalu menerima hasil yang semakin kecil.
Untuk memutus siklus itu, pemerintah mulai mendorong program peremajaan. Sebanyak 2 juta bibit kelapa telah disalurkan, dengan pendekatan menanam di sela pohon lama sebelum dilakukan penebangan bertahap. Cara ini dipilih agar petani tetap memiliki penghasilan selama masa transisi.
Di sisi lain, langkah hilirisasi menjadi strategi yang tak kalah penting. Gubernur Yulius Selvanus mendorong agar kelapa tidak lagi dijual mentah ke luar daerah, melainkan diolah di dalam Sulut. Kebijakan ini diperkuat dengan keberadaan 11 pabrik pengolahan yang diharapkan mampu menyerap produksi petani sekaligus meningkatkan nilai tambah.
“Kalau harga bagus di dalam daerah, tentu petani akan menjual di sini. Ini yang terus dijaga oleh Pak Gubernur,” kata Ichal.
Meski demikian, tantangan global tetap membayangi. Asisten II Pemprov Sulut, Jemmy Ringkuangan, mengingatkan bahwa harga kopra sangat dipengaruhi dinamika pasar internasional. Saat ini, harga berada di kisaran Rp16.000 per kilogram—turun dari puncaknya pada 2025 yang sempat mencapai Rp25.000 per kilogram.
Penurunan ini, menurutnya, tidak lepas dari faktor geopolitik dan meningkatnya produksi minyak nabati lain seperti sawit. Artinya, perbaikan di tingkat lokal harus berjalan beriringan dengan kemampuan menghadapi tekanan global.
“Produksi kelapa harus kita jaga, salah satunya melalui peremajaan. Ini penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani,” ujarnya.
Dengan luas areal mencapai 264.000 hektare dan produksi sekitar 266 ribu ton, kelapa bukan sekadar komoditas—ia adalah denyut ekonomi masyarakat, terutama di wilayah seperti Minahasa Selatan dan Minahasa Utara.
Ke depan, harapan itu ingin diperluas. Sulawesi Utara dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan negara-negara penghasil kelapa dunia dalam rangka International Coconut Day. Momentum ini diharapkan tidak hanya mengangkat nama daerah, tetapi juga membuka jalan bagi peningkatan kesejahteraan petani yang selama ini berada di garis paling hulu.
“Ke depan, Pemprov Sulut juga akan menjadi tuan rumah pertemuan negara-negara penghasil kelapa dunia dalam rangka International Coconut Day, yang diharapkan semakin memperkuat posisi Sulut sebagai daerah unggulan komoditas kelapa sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan petani,” tambah Ringkuangan.
Di tengah kebun-kebun yang menua, upaya ini menjadi harapan baru. Bahwa suatu hari nanti, pohon kelapa tidak hanya berdiri sebagai warisan masa lalu, tetapi juga menjadi simbol masa depan yang lebih sejahtera bagi para petaninya.(man/*)













