Connect with us

Daerah

JEG Dalam Kancah Politik Daerah. Terjang-Menerjang, Biasalah!!

Published

on

TELEGRAFNEWS – Energi positif yang dipaparkan oleh seorang Jabes Ezar Gaghana (JEG) ternyata membawa daya tarik esensial bagi banyak kalangan; mulai dari ajakannya untuk menanam atau bertani selama masa pandemi demi ketahanan pangan, meningkatkan imunitas dengan rajin berolahraga, hingga tetap teguh berdoa memohon pertolongan Tuhan dalam menghadapi setiap masalah.

Beberapa ajakan itupun terus menyebar sampai hari ini, dimana pembuatan lahan pertanian terus mengalami peningkatan, dukungan doa dari masyarakat selama masa pandemi terus mengalir, hingga ajakan olahraga seperti bersepeda demi meningkatkan imunitas tubuh kini menjadi populer di Sangihe.

Tak sampai di situ, energi positif yang dipancarkan oleh JEG ternyata membias sampai ke wadah-wadah organisasi; yang kini ikut terpapar, sehingga berani mengambil langkah dan memberikan kepercayaan penuh kepada seorang JEG untuk menjadi pimpinan atau ketua umum. Sebut saja dua organisasi besar yang mewakili ranah keagamaan dan olahraga yaitu, Pelayan Kategorial (Pelka) Pria Sinode GMIST dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Kepulauan Sangihe, yang kini dinakhodai langsung oleh JEG.

Organisasi keagamaan, Pelka Pria Sinode GMIST ternyata masih memberikan amanah kepada seorang JEG untuk keempat kalinya. Tentu untuk wadah ini tidak dapat dipandang dan diukur hanya berdasarkan popularitas seorang JEG semata, namun campur tangan Tuhan tetap ada dan menyertai dalam proses pelaksanaan pemilihan saat itu.

Kemudian, organisasi olahraga KONI Sangihe ikut menyodorkan umpan langsung dengan meng-GOL-kan seorang JEG menjadi Ketua yang terpilih secara aklamasi tanpa ada ‘tackle’ sedikitpun dari lawan-lawan yang sempat digaungkan menjadi pesaing dalam bursa pemilihan Ketua KONI Sangihe.

Akan tetapi, pada pelaksanaannya kedua wadah organisasi ini akan sangat membutuhkan energi besar dalam menggerakkannya; mengingat posisi seorang JEG sampai saat ini masih aktif menjabat sebagai Kepala Daerah, selaku Bupati Kepulauan Sangihe dengan tugas dan tanggungjawab besar kepada masyarakat; dimana point krusialnya ialah memberi waktu, tenaga dan pikiran harus dilakukan secara instan; melihat aktivitas dari dua organisasi besar ini cukup tinggi dalam saat-saat tertentu.

Terbaru, ketika JEG terpilih secara aklamasi dan resmi menjabat sebagai Ketua KONI Sangihe periode 2021-2025. Berbagai pandangan politik dari para kritisi mulai bermunculan; tak sedikit topik ini menjadi perbincangan hangat meski hanya pada ranah politik dego-dego; dimana pandangan positif dan negatif muncul berbarengan sesuai persepsi perseorangan.

Pada beberapa moment, perbincangan hangat seputar ‘JEG KONI-JEG KONI’ sempat terdengar, bahkan akhirnya terbang dan hinggap di telinga penulis; lalu menjadi diskusi ringan ketika pribadi penulis dimintai tanggapan berdasarkan profesi sebagai pekerja lapangan. Namun yang menjadi fokus utama dari beberapa kalangan, tak lain dan tak bukan ialah persoalan pandangan politik.

Berbagai persepsi pun muncul dan dilontarkan dalam diskusi ringan yang sempat dirangkum oleh penulis. Sebagian pihak yang mendukung penuh dan simpati dengan sosok JEG, menilai seorang JEG masih memiliki kharisma tinggi dan mampu menarik perhatian tiap pribadi maupun kelompok. Berbanding terbalik dengan pihak yang bisa dikatakan berseberangan atau pihak oposisi; dimana berdasarkan penilaian mereka JEG dianggap ‘haus jabatan’ mengingat masa jabatan sebagai Bupati Kepulauan Sangihe bakal segera berakhir dalam beberapa bulan kedepan. Bahkan pada pandangan pihak ini, terpilihnya JEG secara aklamasi tak lepas dari setinggan politik yang memaksa dan mau memberi panggung kepada JEG untuk pencitraan sampai Pilkada 2024. “Dia sengaja dipaksa dan sedikit bapaksa jadi ketua cuma for cari panggung, persiapan untuk 2024 itu kwa,” bunyi sebuah ungkapan yang terlontar dari mulut pihak oposisi dan terekam secara pribadi melalui telinga penulis.

Sementara itu, pandangan lain yang muncul berdasarkan analisa situasi politik di daerah menyodorkan sebuah kalimat keprihatinan terhadap seorang JEG ketika terkesan memaksakan diri mengambil peran krusial sebagai Ketua KONI. “Kasihan JEG, terlalu kerdil bagi dia bila menjadi ketua KONI hanya untuk mencari panggung politik,” ungkap seorang analis politik yang enggan namanya dipublikasikan. Dia bahkan menilai seorang JEG akan jadi bulan-bulanan dari lawan-lawan politik bila tiba saatnya nanti. “Perlu diingat, kebutuhan penganggaran atau dana hibah KONI tetap harus lewat pembahasan dari para anggota legislatif di daerah; mereka memiliki peran dan kepentingan berdasarkan perintah partai masing-masing, bisa saja akan terjadi ‘pembunuhan karakter’ bilamana dana hibah KONI diobok-obok. Sehingga dari situlah potensinya, itu bakal menjadi sebuah tombak yang siap kapanpun dihantamkan,” paparnya dengan sedikit gaya.

Dari sekian banyak persepsi ataupun pandangan politik yang kerap mencuat dan dilontarkan terhadap sosok JEG, tentu sudah menjadi hal biasa bagi seorang JEG. Diterima dan dianalisa sudah menjadi sebuah kewajiban, bahkan dari tingkat kesadaran dan cara berpikir jernih seorang JEG; berbagai hal biasa seperti itu dapat ditepis dengan mudah. Sebab pembuktian terbesarnya, JEG tetap bertahan dalam kancah dunia perpolitikan di daerah; dimana JEG pernah menjabat sebagai anggota DPRD, lalu Wakil Bupati selama dua periode dan kini aktif menjabat sebagai Bupati Kepulauan Sangihe, bahkan siap memecahkan rekor menjadi Bupati untuk kedua kalinya pada perhelatan Pilkada 2024. (Dendy Abram)

Advertisement Whats-App-Image-2021-06-18-at-13-12-18
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending