Connect with us

Berita Utama

Pemimpin Politik Berganti, Negara Harus Abadi

Published

on

Bendera sepanjang 200 meter dibentangkan warga Riung dan Riung Utara, Rabu (18/08) 2021.

TELEGRAFNEWS – “Politik itu dinamis dan sementara. Pemimpin politik bisa berganti, tapi negara harus abadi”.

Komandan Pangkalan TNI AL Melonguane Letkol Maritim Adi Sucipto mengatakan hal itu saat berada di Desa Riung, Kecamatan Tampan’Amma, Talaud, Sulawesi Utara, Rabu (18/08) 2021 kemarin.

Hari itu, warga Desa Riung dan Riung Utara membentangkan Merah Putih sepanjang 200 meter dan mengibarkan 76 Bendera Merah Putih. Acara dipimpin Wakil Bupati Kepulauan Talaud Moktar Arunde Parapaga.

Wabup Moktar Parapaga bersama Danlanal Melonguane Letkol Maritim Adi Sucipto, Dandim 1312/Talaud Letkol Czi Irwan Guptarochman, Anggota DPRD Talaud W. Walesasi, Asisten I Daud Malensang, Kepala Kesbangpol Hoksi Lalintia, Ketua TP -PKK Ny. Martji Parapaga Leong, Kepala DP3AMD Meyke Maatuil, Kapolsek Rainis saat acara pembentangan dan pengibaran bendera di Desa Riung dan Riung Utara.

Pembentangan dan pengibaran Merah putih di sepanjang pantai Desa Riung dan Riung Utara itu sebagai bentuk peringatan HUT ke-76 RI sekaligus tanda kecintaan warga setempat terhadap NKRI.

“Kami berjanji untuk tetap setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjaga bersama NKRI di tapal batas Utara Indonesia. Kami bertekad bersama bahwa NKRI harga mati dan Merah Putih kebanggaan kami selama hayat di kandung badan”.

Begitu ikrar dan janji warga yang dibacakan sebelum mereka membentang dan mengibarkan Bendera Merah Putih.

Di Riung memang sempat terjadi peristiwa pengibaran bendera Negara Filipina. Pengibaran bendera negara yang hanya berjarak kurang lebih 45 mil laut dari Pulau Miangas, salah satu pulau terluar di Kabupaten Kepulauan Talaud itu dilakukan pada Minggu (08/10) 2013 malam, sehari sebelum puncak Pilkada Talaud 9 Desember 2013.

Warga kecewa karena calon mereka, pasangan Noldy Towoliu dan Rebi Ruing digugurkan oleh KPUD Talaud saat proses penjaringan calon. Mereka menilai, hal itu sengaja dilakukan.

Penilaian mereka akhirnya terbukti. DKPP dalam putusannya terhadap gugatan kubu Towoliu-Riung, “Menilai beberapa komisioner KPU Talalud terbukti melanggar kode etik penyelenggara Pemilu, karena dianggap tidak cermat, tidak profesional, dan terindikasi berpihak,” seperti dilansir kompas.com, pada 9 Desember 2013 silam.

Komisioner KPUD Talaud pun dipecat oleh DKPP. Pilkada diambil alih oleh KPUD Sulut. Namun lagi-lagi pasangan Towoliu-Riung tetap tidak lolos sebagai peserta Pilkada.
Buntutnya, warga pun sepakat tidak melakukan pencoblosan pada Pilkada yang dimenangkan oleh pasangan Sri Wahyuni Manalip dan Petrus Tuange.

Danlanal Melonguane Letkol Maritim Adi Sucipto bersama Asisten I Daud Malensang dan Kepala DP3AMD Meyke Maatuil.

Persoalan politik, menurut Letkol Adi, tak seharusnya membuat kita mengambil sikap dan tindakan yang berbau merongrong keutuhan negara. Karena seperti pemerintahan yang terus berganti, pemimpin politik juga datang dan pergi sesuai masanya. Tetapi negara harus dijaga keutuhannya.

“(Jangankan) faktor politik dan ekonomi, sekali-kali atau terbersit mengucapkan kata referendum dengan mengibarkan bendera negara lain. Itu tidak diijinkan”. Katanya. “Hanya kepentingan politik sesaat, sangat disayangkan kalau sampai terjadi kejadian seperti pada beberapa tahun sebelumnya”.

Dia mengapresiasi kegiatan pembentangan dan pengibaran Merah Putih serta ikrar dan janji warga Riung dan Riung Utara untuk setia pada NKRI. Ini harus menjadi momentum kebangkitan nasionalisme dan kebangsaan bahwa kita di wilayah perbatasan benar-benar menjiwai NKRI harga mati.

“Kalau kita cinta dengan negara ini, tidak hanya dengan ucapan, tapi lakukan dengan perbuatan dan berkomitmen dalam hati,” tandasnya.

Dandim 1312/Talaud Letkol Czi Irwan Guptarochman.

Apresiasi juga datang dari Komandan Kodim 1312/Talaud Letkol Czi Irwan Guptarochman. Dia bilang kegiatan ini terbilang spektakuler. Kebangkitan nasionalisme dan patriotisme warga ini sudah selayaknya didukung.

“(Untuk itu) bagi para pemuda -pemudi masyarakat sini yang tamatan SMA, yang mau bergabung dengan TNI silahkan, akan kita wadahi dengan tahapan dan kriteria yang ada dan tidak ada diskriminasi lagi, karena desa ini sudah NKRI,” ucap Letkol Irwan.

Wakil Bupati Moktar Parapaga pun terharu dan bangga terhadap kebangkitan nasionalisme dan patriotisme warga Riung dan Riung Utara. Adalah suatu kehormatan baginya bisa menjadi saksi sejarah kecintaan warga perbatasan Indonesia-Filipina terhadap NKRI ini.

Wabup Moktar Parapaga bersama istri Ny. Martji Parapaga Leong.

“Ini merupakan kebanggaan terbesar kita sebagai anak daerah yang mencintai bangsa dan negara,” kata Moktar.

Dia berharap, kegiatan yang telah dilakukan warga Riung dan Riung Utara ini juga semakin mengokohkan kebersamaan dan semangat untuk terus memerdekakan kehidupan bangsa, terutama di wilayah perbatasan lewat pembangunan.

“Patutlah kita terus menjaga kebersamaan dalam balutan kemerdekaan untuk menuju Talaud yang utuh, tangguh dan berdikari,” ujarnya, seraya mengajak semua kita terus bahu membahu memerdekakan Indonesia, khususnya Kepulauan Talaud dari Covid-19. (RAP)

Advertisement Whats-App-Image-2021-06-18-at-13-12-18
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending