Connect with us
BANNER-DINAS-PUPR-BOLAANG-MONGONDOW

Daerah

Disebut Arogan! Israel tak Berkutik Dihadapan Edwin Cs, Dua Rekemondasi Dikeluarkan

Published

on

HEARING: Tampak Komisi I mendengarkan penjelasan pihak-pihak terkait atas polemik pergantian perangkat desa. (foto:suratman)

TELEGRAFNEWS-Pergantian sepihak 11 perangkat desa oleh Penjabat Hukum Tua Desa Kema Satu, Kecamatan Kema, Israel Pangemanan, akhir selesai di meja Komisi I DPRD Minut.

Buktinya, Selasa (18/5) 2021, Komisi I menggelar hearing bersama perangkat desa yang dipecat, penjabat hukum tua, BPD, tokoh masyarakat, tokoh agama, Camat Kema, Kadinsos/PMD, Inpekstorat dan asisten I.

Dalam hearing tersebut, setelah mendengar penjelasan dari semua pihak yang hadir, Komisi I berkesimpulan, Israel Pengemanan dianggap telah mneyalai aturan, sehingga Komisi Satu mengeluarkan dua rekomendasi.

Dalam rekomendasi tersebut berbunyi pertama, Penjabat Hukum Tua Desa Kema Satu diminta dalam 1×24 jam mengembalikan jabatan 11 perangkat desa yang diganti usai pertemuan itu.

Kedua, hukum tua diminta untuk mengembalikan kondusifitas desa dalam waktu satu bulan berjalan. Apabila dua point tersrbut tak dilaksanakan, maka hukum tua segera mengundurkan diri dari jabatan hukum tua.

Ketua Komisi I DPRD Minut Edwin Nelwan mengungkapkan, setelah mendengarkan keterangan dari semua pihak terkait, Israel telah menyalahi aturan.

“Mengganti perangkat tanpa konsultasi dahulu dengan camat. Dengan berbagai pertimbangan, kami menyimpulkan pergantian telah benar-benar menyalahi aturan. Jadi kami minta agar dikembalikan,” akui pentolan partai berlambang pohon beringin Minut ini.

Sehingga lanjut mantan Fraksi PG ini, pihaknya telah menyepakati untuk mengeluarkan remomendasi. Hal itu sebagai iltimatum terhadap hukum tua agar tidak sewenang-wenang mengambil keputusan tampa melalui mekanisme dan kajian hukum.

Sementara itu, Israel dalam hearing tersebut mengakui telah melakukan kesalahan. Meski begitu, dia menyebut pergantian yang dilakukan bukan tanpa dasar.

“Para perangkat yang diganti sudah membangkang dan tidak menghormati saya selalu pimpinan. Saya tidak berkoordinasi dengan Ibu Camat, karena beliau seolah mendukung mereka,” jelasnya.

Namun, setelah adanya rekomendasi tersebut dia menyebut siap melakukan pergantian dengan segala resiko yang akan dihadapi.

“Kalau memang tidak bisa dalam satu hari ini, saya berupaya dalam dua atau tiga hari sudah mengembalikan jabatan mereka dan menjadikan situasi kembali kondusif,” ungkapnya.

Sebelum dikelurakan rekomendasi, anggota Komisi I Meidy Kumaseh dengan tegas meminta dengan gentle agar Israel mengundurkan diri sebagai penjabat hukum tua atas tidakan kegaduhan yang dilakukannya.

Camat Kema Vilma Antoni saat memberi keterangan, Ia mengatakan, dirinya sebagai camat sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Dimana, Ia telah mengeluarakan surat peringatan (SP) kepeda penjabat hukum tua untuk tidak melakukan pergantian perangkat desa. Namun SP 1-2 sebagai langkah pembinaan terhadap kumtua tersebut tak diindahkan.

Kumtua pun tetap melaksanankan pergantian 11 perangkat desa dan mengabaikan aturan yang ada. Bahkan disebut Camat, Israel penjabat kumtua yang arogan.

Anehnya, dalam pengantian 11 perangkat desa itu berdasarkan nota dinas yang dikeluarkan penjabat kumtua. Dan tak menggunakan aturan perundang-undangan sebagaimana yang diatur.

Hal itu pun diakui oleh BPD Kema Satu yang hadir dalam hearing tersebut. Dalam keterangan pihak BPD, sebagai seorang penjabat kumtua seharusnya memberikan contoh yang baik. Bukan membuat kegaduhan di masyarakat, bahkan diungkapkan BPD, Israel memberikan contoh jika kantor hukum tua itu dibakar Ia (kumtua red) tetap menjadi hukum tua.

Arogan dan kegaduhan Penjabat Hukum Tua Israel Pangemanan ternyata hanya sampai diwilayah yang dipimpinnya, Buktinya saat berhadapan dengan personil Komisi I. Yang ada cuma kata siap salah yang diucapkannya dihadapan personil Komisi I ini.

Pada hal, disejumlah kesempatan Bupati Minahasa Utara Joune Ganda SE, sudah mengingatkan dan mengultimatum sikap sejumlah oknum penjabat hukum tua yang sering membuat gaduh ditengah-tengah masyarakat. Kata Bupati JG, apa lagi yang penjabat hukum tua yang memposisikan diri sebagai Kumtua defenitif.

“Penjabat hukum tua itu seolah-olah dia (Kumtua red) memposisikan diri sebagai Kumtua defenitif. Pada hal Penjabat itu hanya melanjutkan dan mengisi kursi pemerintahan di desa, supaya tidak terjadi kekosongan kepemimpinan di desa,” cetus bupati belum lama ini.

Putra Kaima ini pun meminta kepada seluruh penjabat Kumtua untuk berkoordinasi dengan camat setempat. Jangan sampai, penjabat kumtua mengambil keputusan tanpa meminta masukan dan persetujuan dari camat.

“Apa-apa yang dilakukan oleh kumtua harus meminta persetujuan dari kecamatan. Jadi camat-camat awasi betul ini Penjabat-penjabat hukum tua,” pintanya.

Penjabat kumtua yang memposisikan dirinya sebagai raja kecil di desa ini pun tembus ke kuping orang nomor satu di Minut ini. Hal itu, dia akui bupati pilihan rakyat ini.

“Kita dengar, Penjabat-penjabat ini sudah mulai merasa diri terpilih sebagai hukum tua defenitif. Ini menimbulkan konflik dimasyarakat. Kehadiran Penjabat ini harus merangkul, agar masyarakat di desa itu terimah, bukan malah buat kacau disitu, kita harus rubah paradigma ini,” sentil bupati.

Tak sampai disitu, Bupati JG juga memberi warning kepada penjabat kumtua yang baru dilantik belum lama ini.

“Saya tegaskan lagi, Penjabat-penjabat hukum tua, agar tidak mengganti perangkat desa saat ini, kecuali ada penyimpangan-penyimpangan dan harus dibuktikan dan diproses. Ya kalau terbukti ada penyimpangan betul, diproses secara hukum,” imbuhnya.

Diketahui, turut hadir Asisten I Setda Jane Simon, Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Alpret Pusungulaa, Camat Kema Vilma Anthonie, para anggota BPD Kema I, perangkat yang diganti.
Sementara para anggota Komisi I yang hadir di antaranya, Novie Paulus, Anthony Pusung, Meydi Kumaseh, Azhar dan Stevanus Prasethio. (bungsu)

 

 

 

Trending