Connect with us
Whats-App-Image-2021-08-16-at-02-32-26

Religi

Kepergian Bulan Al-Qur’an Adalah Musibah Bagi Ummat Rasullulah SWA !

Published

on

Surdarwin Jusuf Tompunu S.IP.

Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulut

Ramadhan merupakan syahrul Quran (bulan Al-Quran red). sebagaimana Firman (perkataan) Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 185 yang artinya : “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)”.

Dijelaskan juga dalam QS. Al-Qadar ayat 1, yang artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam qadar”.

Nah, Ummat Nabi Muhammad SAW, sebagaimana yang menjadi kebahagiaan Beliau (Nabi Muhammad SAW), karena Allah memberikan anugerah berupa bulan Ramadhan. Konon, Nabi Musa terperangah ketika diceritakan oleh malaikat Jibril tentang keistimewaan bulan Ramadhan, sehinga Nabi Musa berkeinginan hidup di masa umat Nabi Muhammad meski tidak menjadi Nabi asal bertemu dengan bulan Ramadhan.

Nabi Muhammad pernah bercerita bahwa “Ketika datang akhir malam bulan Ramadhan, langit dan bumi, serta para malaikat menangis karena merupakan musibah bagi umat Nabi Muhammad SAW. Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, musibah apakah itu? Rasulullah menjawab: lenyaplah bulan Ramadhan karena sesungguhnya doa-doa di bulan Ramadhan dikabulkan, dan sedekah diterima, kebaikan dilipat gandakan, dan adzab ditolak.”

Kini bulan mulia ini hendak berakhir. Sejenak kita telusur ke belakang waktu demi waktu yg kita lewati di bulan mulia ini. Adakah harapan agar bertaqwa itu terjawab? Tidak ada yang tahu karena puasa adalah ibadah rahasia.

Namun demikian, jejak kerahasiaan itu memiliki bekas yang hanya bisa diangguk lalu kemudian diikuti geleng-geleng sesal. Kapan? Jawabannya adalah setelah Ramadhan berlalu. Ya, karena ketika Ramadhan berlalu, saat itulah sesungguhnya spirit puasa baru dimulai.

Baik, mari sejenak kita periksa hati kita. Seperti apa makna persaudaraan kita dalam ikatan nasab selama Ramadhan ini. Tengoklah kehidupan sosial kita, adakah kata maaf terus bersemi ataukah memang dendam makin menggurita. Pandanglah ibadah kita, mungkinkah kekosongan masjid selepas Ramadhan adalah sifat hakiki kita.

Sementara, tak siapapun yang bisa menghentikan kepergian waktu.

Bagaimana jika ternyata kita mempersembahkan ibadah Ramadhan yg cacat total? Lima waktu kita berantakan, tadarus Al-Qur’an kita poranda, tarawih kita tak menentu, dhuha kita tekor, sedekah kita rusak, sementara puasa kita tak ada efek penghambaan selain dari dosa dan dosa?

Bagaimana jika ini memang Ramadhan terakhir kita? Bukankah hidup kita dijaga di antara waktu demi waktu?

Allah menjaga kita antara Maghrib dan Isya, Isya dan Subuh, Subuh dan Dzuhur, Dzuhur dan Ashar, Ashar daan Maghrib. Allah menjaga kita di antara Jum’at dengan Jum’at berikutnya. Lalu karena kasih sayang Allah, bukankah telah Allah berikan waktu antara Ramadhan tahun ini dengan Ramadhan tahun depan?? Semua itu demi agar kita memiliki kepekaan untuk terus bertaubat dan beribadah.

Kematian pasti datang dan itu masih gaib, namun kesempatan bertemu Ramadhan juga perkara gaib yang tidak ada seorangpun bisa mengetahui kesempatannya kemudian.

Maka, inilah kesempatan kita di saat menjelang akhir Ramadhan. Marilah kita saling mengingatkan dan tolong menolong dlm kebaikan dan taqwa. Kita saling mendoakan semoga segala kebaikan disegerakan dan dijauhkan dari keburukan fitnah hidup dan mati, serta dilindungi oleh Allah dari fitnah dajjal.

Advertisement Whats-App-Image-2021-06-18-at-13-12-18
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending