Connect with us

Berita Utama

Kemendag Mulai Optimalkan Pemanfaatan Sistem Resi Gudang

Published

on

Wakil Menteri Perdagangan, Jerry Sambuaga (kedua dari kiri) didampingi oleh Kepala Bappepti Sidharta Utama (paling kiri), Direktur Utama Bursa Berjangka Jakarta Stafanus Paulus Lumintang, serta Ketua APRINDO (paling kanan), saat diwawancarai awak media Kamis kemarin.(foto: ivan)

TELEGRAFNEWS – Pelaku usaha komoditas yang memanfaatkan sistem resi gudang (SRG) semakin meningkat dari tahun ke tahun. Untuk itu, pemerintah akan terus mendorong pemanfaatan SRG.

Hal tersebut dikemukakan Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga dalam Rapat Koordinasi Pengembangan Sistem Resi Gudang di wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku, dan Maluku Utara , Kamis (15/4) di Swissbell Hotel Manado, Sulawesi Utara.

Sambuaga menjelaskan, SRG merupakan fasilitas yang diberikan pemerintah, khususnya Kementerian Perdagangan RI untuk membantu petani dan nelayan.

Sampai saat ini, kata Jerry, pihaknya telah membangun 123 gudang untuk SRG. Di Sulawesi Utara ada empat, masing-masing ada di Desa Teep, Minsel dan Desa Mogoyunggung, Bolmong. Kemudian ada cold storage yang belokasi di Bitung dikelola oleh Perinus dan cold storage yang berada di Tahuna, Kepulauan Sangihe.

“Memang, saat ini SRG belum berjalan baik. oleh karena itu kami kumpulkan kepala daerah, pelaku usaha dan pihak terkait untuk dicari jalan keluarya,” kata Sambuaga.

Ketika harga komoditas pertanian dan perikanan turun, Sistem Resi Gudang inilah yang akan menjadi solusi.

“Biasanya harga itu turun ketika musim panen. Ketika harga sudah naik dia bisa jual komoditasnya,” jelasnya.

Sederhana saja kata Wamen. Mekanisme SRG, Pada saat panen, petani atau nelayan bisa menyimpan komoditas di gudang atau cold storage. Kemudian, dari pengelola akan memberikan resi yang mana bisa dijaminkan ke bank.
“Memang pengelolaan Resi Gudang ini bisa maksimal ketika melibatkan pihak swasta,” ujar Sambuaga.

Sambuaga juga optimistis pelaksanaan SRG teristimewa dalam bidang perikanan dapat menjadi strategi ampuh dalam menyederhanakan mata rantai perdagangan.

Para pelaku usaha perdagangan yaitu eksportir, pengusaha ritel, atau pedagang besar lainnya dapat secara langsung membeli barang ke nelayan. Sehingga, nelayan pun diuntungkan dengan perolehan harga jual yang lebih kompetitif.

“SRG juga berpotensi menjadi instrumen pengendalian harga dan pendukung peningkatan ekspor produk komoditas lokal Indonesia ke pasar global,” ungkap Sambuaga.

Dalam kesempatan itu juga, Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Sidharta Utama, menjelaskan penerapan SRG perikanan juga selaras dengan program pemerintah menjadikan Maluku sebagai lumbung ikan nasional (Maluku Lumbung Ikan Nasional/MLIN), dengan proyek percontohan di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 714, 715, dan 718.

“Saat ini terdapat 6 cold storage (CS) yang dapat dipersiapkan mendukung program MILN yaitu gudang SRG CS Pelabuhan Kendari di WPP 714, gudang SRG CS Halmahera Selatan, Bitung, Ambon, dan Sorong di WPP 715, serta gudang SRG CS Mimika di WPP 718,” ujar Sidharta.

Sidharta juga menghimbau pentingnya dukungan pemerintah daerah dalam pelaksanaan SRG di daerah masing-masing melalui kebijakan yang mendorong pemanfaatan, infrastruktur, pembentukan kelembagaan, serta koordinasi aktif di antara pemangku kepentingan terkait.(v@n)

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending