LIPI Sukses Gelar FGD, Semua Ummat Sepakat Jaga Manado Tetap Aman

by -64 views

DISKUSI: Nampak suasana FGD yang dipandu bung Hendri Gunawan.

TELEGRAFNEWS-Kolaborasi antara lembaga Penilitian Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sulawesi Utara (Sulut) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) serta Yayasan Wale Mareraean dalam hajatan forum group discussion (FGD) yang bertajuk”Merajut Toleransi di Kota Bersehati”, yang digelar di Yayasan Wale Mareraean, Selasa (24/11/2020).

Dalam FGD tersebut, sejarawan sekaligus budayawan Sulawesi Utara Fendy Edwin W. Parengkuan sebagai pemantik yang dipandu oleh moderator Hendri Gunawan.

Usai FGD BPNB Sulut yang juga perwakilan LIPI Hendri Gunawan menuturkan, pihaknya dari tim LIPI bergabung dengan Kemendikbud melakukan penilitian toleransi di Tiga kota, yakni di Manado, Bekasi dan Bali.

“Justifikasih awalnya itu, hasil riset dari Wahid Institute, bahwa Manado salah satu kota toleran. Apakah itu betul atau itu hanya dipermukaan saja, karena semakin berkembangnya kota Manado semakin kompleks masyarakatnya juga. Jadi kita lakukan penilitian,” tandasnya.

Sambung dia, berdasarkan hasil-hasil riset yang ada, bahwa selema ini yang ditampilkan itu yang intolerannya. Nah, dalam kesempatan ini, di Manado khususnya kita undang sejumlah komunitas.

“Mulai dari Muhammadiyah, NU, Ahmadiyah, Penghayat, Kristen, Katolik, Hindu, akademisi dan sejarawan. Hal ini bertujuan untuk mengangkat nilai-nilai leluhur yang ada di masyarakat Manado. sehingga Manado ini masih bisah terjaga walaupun di daerah seblah, misalnya Poso di Ambon itu terjadi konflik. Disini kita punya nilai leluhur yaitu baku atur bae atau musyawara mencapai mufakat,” ujarnya.

Lanjut diakuinya, dalam diskusi tersebut banyak hal-hal baru yang terungkap.

“Hasil FGD ini banyak masukan dan ada informasi baru yang kita dapat. Bahwa konsep orang Minahasa, bila orang yang sudah lahir dan besar di Minahasa dan orang luar yang sudah datang ke Minahasa dan hidup di Minahasa itulah orang Minahasa. Ini yang harus dipahami oleh banyak orang belum diketahui,” katanya.

Dia pun berharap, diskusi seperti itu terus digaungkan. Sebab, kata ia dengan diskusi seperti itu Manado Sulawesi Utara makin aman.

“Kami berharap, bahwa diskusi-diskusi seperti ini bisa dilanjutkan. Bukan hanya saat ini, tapi bisa berkisinambungan. Sehingga kita punya pemahaman yang sama, satu sisi juga kita sama-sama merawat Manado agar tetap aman,” timpalnya.

Tak hanya diskusi, namun dalam FGD tersebut juga diisi selingan musik Kolintang oleh Stave Tuwaidan dan tim.

“Kami ucapkan terima kasih juga kepada teman-teman musik Kolintang yang sudah menghibur kita semua. Tak hanya itu, tapi semua yang terlibat dalam suksesnya diskusi ini yakni Pak Dave Christian Lolowang, Charlie A Thomas, Marvita Daud, mbah Coki S Vivaldi, Fandry Freadericko Mamile, semoga upaya dan usaha kita bersama ini bisa membuakan hasil yang baik bagi nerasi yang akan datang,” kuncinya.

Turut hadir dalam FGD Meichi Runtuwene (FKUB – Budha), Dr. Sulaiman Mappiasse (IAIN Manado), Dr. Denni Pinontoan (Mawale Movement Kristen), Rocky Koagouw (Penghayat), Amato Assagaf (Padepokan Assagaf), Mardiansyah Usman (Lesbumi NU Sulut), Hafiz Mutu (Ahmadiyah), Dr. Ivan Kaunang (Akademisi FIB Unsrat). (bungsu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.