Islam dan Tantangan Revolusi Industri 4.0

  • Whatsapp

Oleh : Rusmin Hasan
Aktivis : HMI Cabang Tondano

Zaman terus berkembang. Alat pemuas kebutuhan manusia juga semakin kompleks ditandai dengan perkembangan Revolusi industri 4.0, dari sini timbul suatu pernyataan bahwa aturan manusia harus disesuaikan dengan zaman.

” Dalam Buku The Fourth Industrial Revolution (Crown Business, 2016) menguraikan potensi industri 4.0 ini. Klaus meyakini, cara-cara baru pemanfaatan teknologi akan membawa dampak positif bagi kemaslahatan manusia. Inovasi misalnya, bisa memberikan solusi atas masalah-masalah sosial yang sebelumnya tak mampu dipecahkan.

Di sisi lain, Klaus juga mengungkap tantangan-tantangan yang akan dihadapi. Selain kekhawatiran akan hilangnya sejumlah profesi, ada pula kekhawatiran terkait relasi antarmanusia yang semakin tergantung pada teknologi. Gejalanya, telah terlihat. Penelitian yang dilakukan Universitas Michigan pada 2010 menyebutkan, 40 persen mahasiswa mengalami penurunan kemampuan bersosialisasi dan berempati. Meski demikian, Klaus juga memaparkan berbagai alasan untuk optimistis menghadapi revolusi industri keempat

Gaya hidup yang digambarkan, seperti Tony Stark (Iron Man) dalam film Avengers sebentar lagi benar-benar menjadi kenyataan. Kecanggihan Jarvis sebagai asisten pribadi virtual yang dapat melakukan banyak hal. Dari menyalakan lampu, mengatur suhu AC, hingga melakukan prediksi, nyaris sudah dapat dilakukan oleh kecerdasan buatan (AI) besutan beberapa raksasa teknologi seperti Asisten Google, SIRI, hingga Cortana. Semuanya, hanya butuh perintah suara.

Dengan perkembangan sepesat itu, seluruh perangkat cerdas termasuk mesin produksi pabrik akan segera terkoneksi satu sama lain dengan kecepatan transfer informasi yang cepat (5G), diatur dengan AI sehingga proses produksi bisa lebih efisien. Tidak hanya itu, mesin-mesin ini dapat belajar secara mandiri (deep learning), memetakan kesalahan yang lalu, dan menghindarinya di masa depan.

Perkembangan dunia yang seperti itu akan mengubah tatanan hampir setiap industri. Sistem produksi, manajemen hingga sumber daya manusia. Era baru telah dimulai. Untuk itu, persiapkan diri agar siap menghadapi Disrupsi 4.0 yang menyertai Revolusi Industri 4.0 bahkan posisi agama. Dunia akan mentranformasikan diri untuk beradaptasi dengan perkembangan Zaman, begitu pula dengan agama Islam sendiri.

Islam sebagai agama Universal menyangkut segala problematika kehidupan tak bisa digiring zaman. Namum, Islam yang harus menguasai poros perkembangan peradaban dunia ( Cak Nur )” Islam bukan agama yang tertutup akan tetapi agama terbuka, menjadi ispirasi mata air kehidupan seluruh umat ( Rahmatan Lil’alamin ).

Dalam The Rise and Fall of the Great Powers (1987), Paul Kennedy menulis “Selama berabad- abad sebelum tahun 1500 M, Dunia Islam sudah lebih dulu maju dibanding Eropa di bidang peradaban dan teknologi.” Pada bidang matematika, pemetaan, pengobatan dan banyak bidang ilmu serta industri pabrik pemintalan, pengecoran laras senjata, mercusuar, peternakan kuda kaum muslim menikmati keunggulannya.

Islam dalam sejarahnya telah mengalami pasang-surut kemajuan dan kebangkitan yang berlangsung silih berganti. Mari kita menjelajah sebentar ke sebuah era gemilang Islam yang motor penggeraknya sudah dimulai sejak era Nabi Muhammad SAW hidup pada 570 M sampai menjelang 1031 M. Nabi Muhammad SAW memang tidak menunjuk penggantinya sebelum beliau wafat.

Namun, akhirnya umat Islam generasi awal berhasil memilih penerusnya secara aklamasi. Empat khalifah pertama dipilih dari orang-orang yang hidup sezaman dengan Nabi, yaitu dari kalangan sahabat dan keluarganya (al-Muhajirin ). Mereka adalah Abu Bakar Siddiq ra, Umar ibn Khattab ra, Utsman bin Affan ra, dan Ali ibn Abi Thalib kw, sepupu Nabi yang kemudian menikahi putri beliau, Fatimah az-Zahra.

Keempat khalifah ini, oleh sebagian besar muslim dinamakan “Orang-orang yang beroleh petunjuk yang benar” (Al-Rasyidun ). Pasca-Khulafa Al-Rasyidun, para tokoh penggerak Islam berikutnya adalah Umar bin Abdul- Aziz, khalifah Bani Umayyah yang berkuasa sedari 717-720 M.

Sebagai Kader HMI atau generasi Islam kita tidak bisa kehilangan Nilai keislaman pada diri kita yang tergantikan oleh era yang mengikuti tren dunia barat. Sekalipun tidak semua pandangan barat adalah sesuatu yang sesat dan dilarang. Tentuhnya kita mampu mengkaji kembali pandangan barat yang kita hadapi ditengah kondisi sosial kita hari ini, agar sesuai dengan syariat Islam.

jasa website ok

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.