Polemik Tambang Emas di Sangihe, Warga Ancam Demo Besar-besaran

  • Whatsapp

Bupati Sangihe Jabes Ezar Gaghana bersama Forkopimda turun ke lokasi tambang untuk mendengar aspirasi masyarakat sekaligus menyaksikan polisi melakukan police line terhadap excavator yang beroperasi di tambang rakyat beberapa waktu lalu. (Dendy/Telegrafnews.co)

TELEGRAFNEWS – Polemik keberadaan aktivitas pertambangan emas di Kabupaten Kepulauan Sangihe kian memanas. Beredar kabar, para pengais rezeki dari tambang emas di daerah itu akan menggelar demo besar-besaran, Rabu (15/7) 2020 esok.

Read More

Informasi diperoleh Telegrafnews.co, rencana demo dipicu adanya tudingan bahwa Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe, dalam hal ini Bupati Jabes Ezar Gaghana, berupaya menutup aktivitas tambang dengan menyurat ke Kementerian Pertambangan dan Lingkungan Hidup.

Bahkan, Bupati Jabes Gaghana pun dituduh tak berpihak kepada rakyat kecil lantaran aktivitas tambang rakyat yang berlangsung di lahan milik rakyat, sekalipun di beberapa lokasi telah melibatkan alat berat dalam proses penggaliannya.

Bupati Jabes Ezar Gaghana, ditanyai Telegrafnews.co, Selasa (14/7) 2020, menegaskan bahwa pemerintah daerah, bahkan dirinya, sama sekali tak berniat menutup tambang emas yang dikenal sebagai tambang rakyat di daerah itu.

“Saat ini saya dapat informasi dengan ribut-ribut soal tambang, saya tidak pernah ada niat untuk menutup tambang rakyat” ujar Jabes Gaghana.

Dia menampik isu terkait Surat Pemerintah Kabupaten ke Kementerian Pertambangan dan Lingkungan Hidup guna penutupan tambang rakyat. Dia menyatakan, “isu yang beredar itu sengaja dipolitisir seakan bupati yang meminta penutupan terkait tambang rakyat yang ada”, padahal surat itu lebih terkait pada penambangan liar yang telah merusak kelestarian lingkungan.

“Terkait Surat Pemerintah Kabupaten ke Kementerian Pertambangan dan Menteri Lingkungan Hidup, ini karena kami mau melaporkan bahwa ada tambang liar menggunakan alat ekskavator ada 6 unit,” tandas Jabes.

Excavator yang di-police line polisi dengan latar kerusakan lingkungan akibat proses tambang. (Dendy/Telegrafnews.co)

Jabes menjelaskan, pemerintah daerah sangat peduli dengan rakyat kecil yang melakukan aktivitas tambang. Seperti mengingatkan masyarakat bahwa untuk sementara tidak melakukan aktivitas tambang karena akan ada penertiban sekaligus berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk menunda kegiatan penertiban sampai masyarakat selesai membersihkan peralatan mereka dari lokasi tambang.

“Masyarakat kita ditangkap polisi itu sudah diingatkan bahwa ada penertiban tambang rakyat. Waktu itu pak kapolres meminta sama saya untuk ditertibkan tanggal 28 Februari, tapi ada masyarakat datang memohon: ‘pak kalau boleh minta waktu dua minggu’, dan itu saya sampaikan kepada pak kapolres minta waktu dua minggu sampai pertengahan Maret, bahkan pak kapolres juga masih memberikan waktu satu bulan agar supaya boleh membersihkan lebih tenang, sehingga dikasih waktu sampai 31 Maret. Selepas itu, ternyata ada sebagian yang masih bekerja dan akhirnya ditangkap tanggal 7 April, sementara sudah diberi waktu 1 bulan namun masih melakukan pelanggaran,” jelasnya.

“Sementara, disatu sisi ada alat ekskavator yang masuk di Bowone. Mereka bekerja sampai merusak lingkungan; gunung sudah rata kiri-kanan, tidak mungkin pemerintah harus diam, sehingga saya kirim surat. Surat itu adalah melaporkan bahwa di Sangihe ada penggunaan alat berat di tambang rakyat, tapi malah diputar balik bupati tidak mendukung tambang rakyat, bahkan surat itu difotokopi ribuan dan dibagikan agar masyarakat yang membaca langsung terprovokasi,” timpalnya.

Dia menambahkan, surat yang dikirim berisi enam poin. Pada pada poin 3, 4 dan 5, secara jelas menolak aktivitas tambang menggunakan excavator atau alat berat dan melaporkan adanya excavator atau alat berat yang telah merusak lingkungan, bukan tambang rakyat.

“Tambang ini sudah berapa tahun beroperasi dan saya tidak pernah mau utak-atik, karena membela rakyat. Surat saya kirim ke pusat itu karena untuk membela rakyat, tapi diputar balik. Tema kita saat ini adalah bekerja bukan berpolitik, kalau sudah berpolitik intrik terus,” tutupnya. (Dendy Abram)

jasa website ok

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.