Divonis Penjara Seumur Hidup, Ungke Tertunduk Diam

  • Whatsapp

Ketua majelis hakim Haris Budiarsa saat akan membacakan putusan hakim

TELEGRAFNEWS – Majelis hakim Pengadilan Negeri Melonguane menghukum terdakwa kasus pembunuhan Dharma Tjantje Saweduling, Korinus Paradenti (42) alias Ungke dengan pidana penjara seumur hidup.

Read More

Majelis sependapat dengan pidana maksimal yang dituntut jaksa penuntut umum setelah mempertimbangkan fakta-fakta, alat bukti, serta hal-hal yang memberatkan warga Desa Bowombaru, Kecamatan Melonguane Tumur, Talaud itu di persidangan.

“Kami selaku tim JPU (jaksa penuntut umum) turut senang mendengar apa yang diputuskan majelis hakim, karena sudah sesuai dengan tuntutan kami, bahwa terdakwa dijerat berdasarkan dakwaan primer pasal 340 KUHP,” tandas Jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Kepulauan Talaud David Adrianto.

Putusan tersebut dibacakan majelis hakim dalam persidangan dengan agenda pembacaan putusan di Pengadilan Negeri Melonguane, Kamis (4/6) 2020. Persidangan dihadiri tiga majelis hakim yang dipimpin majelis hakim Haris Budiarso.

Jalannya persidangan turut dijaga ketat Personel Polres Talaud dan Tim Resmob Mata Merah yang dipimpin Kanit Resmob Bripka Ferry Ismail untuk mengantisipasi amukan keluarga korban.

Terpantau saat ketua majelis hakim Haris Budiarsa membacakan putusan, terpidana Korinus Padenti (42) alias Ungke Nus hanya terdiam dan tertunduk lesu. Dia seakan pasrah menerima putusan hakim akibat perbuatannya.

Istri korban, Yuliana Suatan, mengungkapkan terima kasih kepada jaksa penuntut umum dan majelis hakim.

“Terima kasih kepada pak hakim dan pak jaksa karena sudah boleh menyatakan pelaku dengan hukuman penjara seumur hidup dan perlu di luruskan di sini sebenarnya kami sudah membayar upahnya dan malahan si pelaku ini yang masih ada utang sama kami. Dan itu ia akui di depan majelis hakim,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca, usai persidangan yang berlangsung aman.

Diketahui, kasus pembunuhan yang menewaskan Dharma Tjantje Saweduling terjadi di sekitar komplek pertokoan Kelurahan Melonguane pada Senin (27/1) 2020.

Berdasarkan fakta-fakta dan bukti-bukti yang ditemukan aparat penegak hukum, peristiwa tersebut dilakukan oleh terpidana secara sengaja dan terencana.

Hal lain yang turut memberatkan terpidana, yakni terpidana juga terbukti merupakan residivis dalam tindakan pidana serupa. Dia pernah dipidana akibat kasus pembunuhan pada Tahun 1997 dan kasus penganiayaan pada Tahun 2004 dan 2013. Selain itu, aparat juga melihat bahwa korban merupakan tulang punggung keluarga. (Rey)

jasa website ok

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.