Tak Takut Covid-19, Rahman Ismail Sembangi Rumah Opa Simon Untuk Beri Suport Sekaligus Berbagi Kasih

  • Whatsapp

SALUT: Nampak Rahman Ismail saat sembangi kediaman Opa Simon Rorimpandey sekaligus menyerahkan paket sembako dan uang tunai.

TELEGRAFNEWS-Luar biasa tidakan kemanusiaan yang dilakukan salah satu Komisioner Bawaslu Minahasa Utara (Minut) Rahman Ismail. Pasalnya, Maman sapaan akrabnya ini tak takut dengan virus mematikan saat ini. Ia justru mendatangi salah satu rumah warga di Desa Wusa Kecamatan Talawaan, yang difonis istrinya sebagai pasien positif covid-19 pertama di Minut.

Kehadiran mantan wartawan senior ini, untuk memberikan suport kepada suami almarhum Bapak Simon Rorimpandey yang mendapat stigma negati oleh masyarakat setempat.

Dalam kesempatan itu, Rahman Ismail meminta kepada masyarakat untuk tidak memberi stigma negatif kepada pasien positif covid-19 dan keluarga pasien, baik masih berstatus PDP (Pasien Dalam Pengawasan) maupun orang dalam pengawasan (ODP). Bahkan kepada orang yang dinyatakan kontak erat, seperti tenaga medis.

SALUT: Nampak Rahman Ismail saat sembangi kediaman Opa Simon Rorimpandey sekaligus menyerahkan paket sembako dan uang tunai.

Sebab, kata putra Buton ini, masih banyak terdapat stigma negatif dan perlakukan diskriminatif oleh masyarakat dilingkungan sekitar terhadap orang-orang yang telah dinyatakan sebagai positif covid-19, ODP, PDP dan OTG serta keluarga korban covid-19.

“Akibat merasa ditolak, maka stigma juga dapat berkontribusi terhadap tingginya angka kematian akibat virus corona,” ujar Rahman Ismail.

Untuk itu, secara moril Rahman Ismail merasa terpanggil untuk memberi suport dengan cara mendatangi kediapaman Bapak Simon Rorimpandey, Sabtu (30/05/10). Kehadiran Rahman Ismail itu, untuk mengubah stiga negatif dan perlakuan diskriminatif masyarakat sekitar.

Dalam kunjungan itu, Rahman membawa sejumlah bahan pokok seperti beras, minyak goreng, kue, kopi, teh sabun dan uang tunai.

“Saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melawan stigma dengan tidak mendiskriminasi dan mengucilkan tenaga kesehatan dan orang-orang yang terpapar COVID-19. Kita semua adalah saudara, mari kita saling membantu,” ajak pria yang dikenal dengan status tagar ‘pacar merah’ ini.

Perlu diketahui, opa Simon merupakan salah satu warga yang menjadi korban stigma COVID-19, usai sang istri meninggal karena positif covid-19 beberapa waktu lalu.

Istri Simon Rorimpandey, merupakan pasien kasus ke-7 positif COVID-19 di Sulawesi Utara sekaligus pasien kasus pertama di Kabupaten Minahasa Utara.
Ia meninggal dunia pada Jumat (10/4/2020) sekitar pukul 04.00 Wita lalu, dengan kisah pilu. Dimana jenazah sempat terlantar beberapa jam di areal pekuburan, akibat tidak ada petugas medis yang berjaga.

Sesuai protokol, opa Simon sudah melakukan karantina mandiri selama 14 hari di rumah sakit.
Pun demikian dengan hasil swab test kedua dari almarhumah sang istri sudsh dinyatakan negatif.

“Tapi saya selalu dianggap positif COVID-19. Tetangga menjauh. Mereka takut tertular,” sebutnya.

Kedatangan Rahman Ismail pun disambut gembira Opa Simon.
Dia senang ada yang peduli dan tidak takut untuk berkunjung ke rumahnya.

“Terima kasih sekali atas perhatian Pak Ramhan. Semoga Tuhan membalas berkat melimpa,” kunci Opa Simon sembari mendoakan Rahman Ismail. (Bungsu)

jasa website ok

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.