Indahnya Berbagi Kasih Sayang di Ladang, Cerita Valentine’s Day dari Desa Ranoiapo

  • Whatsapp

Keluarga Lumenta-Pandeyata usai melaksanakan tradisi wolay atau saling mengoleskan arang tempurung di wajah setiap anggota keluarga saat perayaan Valentine’s Day. (foto: Christy/Telegrafnews)

TELEGRAFNEWS – Moment hari Kasih Sayang atau Valentine’s Day sepertinya sayang dilewatkan begitu saja, termasuk oleh warga di pelosok desa. Tentunya dengan keseruan berbeda dengan yang lazim di kota.

Desa Ranoiapo, Kecamatan Ranoyapo, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara merupakan salah satu desa yang rutin menggelar perayaan Valentine’s Day.

Namun berbeda dengan di kota, yang lazim menjadi hari istimewa bagi sepasang kekasih, Valentine’s Day bagi warga Desa Ranoiapo merupakan kesempatan berbagi kasih sayang antara sesama anggota keluarga besar.

“Valentine’s Day bagi warga Desa Ranoiapo bukan hanya untuk sepasang kekasih, tapi juga dirayakan bersama antara kakak beradik, saudara bersaudara atau keluarga besar,” ujar seorang warga, Merry Lumenta.

Uniknya, tutur Merry, perayaan Valentine’s Day di desa ini bukanya dirayakan di lokasi pemukiman, tetapi di kebun. Beberapa keluarga besar membangun tenda di kebunnya masing-masing dan menghabiskan hari bersama di sana.

“Tradisi dari dulu, suasana Valentine’s Day seperti ini menjadi beda dengan di kota. Kalau di kota-kota orang pasti ke restauran, nongkrong di cafe, jalan tempat wisata. Tetapi di sini, kita kumpul di kebun bersama sanak saudara,” ujarnya.

“Dan bukan hanya di satu kebun saja, ada beberapa kebun yang menjadi keramaian semua orang,” imbuh Merry.

Selain itu, kalau cholate menjadi kado istimewa bagi orang kota, maka buah durian, langsat dan dukuh menjadi menu istimewa bagi warga Desa Ranoiapo pada setiap gelaran Valentine’s Day.

“Kemudian kami makan bersama dengan menu ayam bakar, jagung rebus dan ditutup dengan saguer campur durian,” kata Merry sambil tersenyum.

Selanjutnya, menjelang sore hingga malam masing-masing keluarga besar mengisinya dengan karaoke dan disko tanah ala desa dan akhirnya ditutup tradisi wolay atau saling mengoleskan arang tempurung di wajah setiap anggota keluarga.

“Valentine’s Day ala Desa Ranoiapo yang ramai dan unik ini sudah jadi tradisi setiap tahunnya. Nah, ingin nikmati sensasi berbeda di Hari Kasih Sayang, datanglah ke Ranoiapo,” ajak Om Jhonbel, seorang anggota keluarga besar Lumenta-Pandeyata, menutup perbincangan dengan Telegrafnews.

(Christy)

jasa website ok

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.