by

Tetap Setia Pada NKRI Ditengah Keterisoliran Warga Distrik Bamgi

TELEGRAFNEWS – Setelah tiga jam menyusuri sungai Digoel yang luas dan berliku akhirnya telegrafnews.co tiba di sebuah distrik (kecamatan) yang jauh dari suasana sebagai sebuah kecamatan pada umumnya. Aroma keterisoliran begitu kuat terasa. Ketika menyusuri jalan distrik Bamgi kabupaten Boven Digoel provinsi Papua, tenang dan sepi menyeruak. Hanya sesekali berpapasan dengan warga setempat. Jangankan mobil, sepeda motor pun hanya ada satu unit, itu pun sudah terlihat usang milik puskesmas setempat.

Siang itu, telegrafnews.co menyusuri jalan menuju kantor distrik yang ditempuh 30-40 menit dengan berjalan kaki dari dermaga dimana perahu yang ditumpangi dari pusat pemerintahan kabupaten Boven Digoel. Tampak beberapa staf distrik sedang mempersiapkan peringatan HUT RI Ke-74.

Lebih mengejutkan lagi, tak satu pun kios atau pedagang yang menjual kebutuhan pokok seperti daerah lain pada umumnya. Keterangan warga, taka da pedagang yang ingin berjualan di distrik tersebut karena jaraknya yang jauh dan medan yang ditempuh sangat berat.

Warga distrik Bamgi harus menggunakan perahu yang merupakan alat transportasi satu satunya di distrik tersebut hanya untuk membeli kebutuhan pokok sehari hari. Tentu dengan harga yang selangit.

Keinginan warga distrik Bamgi untuk bisa menikmati jalan darat masih sebatas angan angan dan impian yang hingga kini tak kunjung terwujud. Padahal, jalan darat akan Sangat menghemat waktu dan minimalisir biaya warga jika ingin berbelanja kebutuhan pokok. Padahal, distrik Bamgi pernah menjadi awal mula pemerintahan di wilayah Boven Digoel.

Daerah yang pernah dilintasi Proklamator Indonesia Soekarno hingga kini masih menyimpan sebuah bendera merah putih pemberian presiden RI pertama itu dan kini menjadi bendera “pusaka” yang “dikeramatkan” warga di distrik Bamgi.

Informasi dari warga setempat, orang tua di distrik Bamgi merupakan saksi sejarah penandatanganan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) dan mereka bagian dari warga Papua yang memilih NKRI sebagai pilihan saat Pepera dilaksanakan.

Namun sayang 74 tahun kemerdekaan Indonesia, warga di distrik ini masih jauh dari kata “Merdeka”. Akan tetapi, semangat mencintai Indonesia tak pernah sedikit pun memudar meskipun pemerintah Jakarta belum pernah melirik distrik yang berada jauh dipedalaman Papua ini.

“Kami tetap Indonesia, meski pun Indonesia lebih sering melupakan kami di distrik ini. Pilihan tete dan nene moyang (Kakek dan Nenek moyang) kami bergabung dengan NKRI harus tetap kami pelihara,” demikian yang sering disampaikan warga di distrik ini kepada setiap tamu yang datang dan mungkin mereka berharap pesan ini sampai ke mereka yang dapat memberikan cahaya bagi distrik terpencil nun jauh dipedalaman Papua ini.

Reporter : Gilang Harry
Editor : Arham Licin

Image and video hosting by TinyPic

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed