Pemkab Morowali Dinilai Tak Bersahabat Dengan PKL

  • Whatsapp

TELEGRAFNEWS – Pedagang kaki lima (PKL) di kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah merasa kecewa dengan perlakuan dari pemerintah daerah setempat.

Sejak kabupaten Morowali dipimpin bupati Taslim dan wakil bupati Najamuddin tahun 2018 silam, nasib pedagang kaki lima (PKL) seakan dianak tirikan. Bagaimana tidak, PKL yang dulunya bisa berjualan dibeberapa titik keramaian di Bungku ibukota kabupaten Morowali, kini kebingungan harus berjualan dimana.

Read More

Susana Taman Kota Bungku, kabupaten Morowali yang sepi (foto : AL)

“Bingung mas, dulu padahal kita bisa berjualan di Taman kota Bungku, disana kan ramai. Sekarang kita diusir dari sana,” kata salah satu PKL yang minta namanya tidak ditulis.

Padahal, dengan kondisi kabupaten Morowali, khususnya kota Bungku yang masih dalam taraf berkembang, kehadiran pedagang kaki lima bisa membuat suasana kota menjadi lebih ramai.

“Ini kota sunyi betul kalau malam. Pedagang juga jarang kelihatan, padahal di Taman kota itu kalau banyak yang jualan bisa lebih hidup suasana kotanya,” jelas Dila yang mengaku baru tiga hari di Morowali.

Bahkan, belum lama ini Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) kabupaten Morowali juga mengusir salah satu pedagang yang biasa berjualan di depan SPBU Bungku.

“Alasannya karena ini trotoar dipakai untuk pejalan kaki. Padahal ini sudah ujung trotoar yang tidak digunakan lagi,” kata salah satu pedagang kepada awak media ini, Selasa (27/8)2019.

(Par)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.