by

Morowali, Daerah Tanpa Transportasi Umum

-Daerah-135 views

TELEGRAFNEWS – Pertama kali menjejakkan kaki di Bandar Udara Morowali “aroma kemahalan” sudah tercium saat tak terlihat satu pun angkutan umum yang beroperasi di area bandara tersebut.

“Tidak ada disini taksi bandara pak, kalau mau ke pusat kota Bungku bapak gunakan mobil rental,” kata seorang ibu pengelolah kantin BumDES atau Badan Usaha Milik Desa di sekitar bandara yang belum lama beroperasi itu, Sabtu (17/8)2019.

Tebakan “aroma kemahalan” itu pun benar saat sopir mobil rental yang akan mengantarkan ke pusat kota Bungku, ibukota kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah menyebut nilai nominal yang harus dibayarkan.

“Kalau ke Bungku itu pak jaraknya kurang lebih 45 sampai 60 menit dan harganya 350 ribu,” kata pak Jufri nama sopir tersebut.

Hasil negosiasi, 300 ribu rupiah pun menjadi harga kesepakatan. Mobil kemudian melaju tanpa hambatan melewati sejumlah desa yang disisi kanan kiri dipenuhi perkebunan kelapa sawit.

“Ini kelapa sawit yang pertama kali menjadikan warga Morowali sejahtera. Meski pun memang sekarang kelapa sawit tidak lagi menjadi primadona pasca perusahaan tambang nikel asal China mulai beroperasi disini,” tutur bapak yang mengaku berasa dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan dan tinggal di Morowali sejak 20 tahun silam.

“Harga Kemahalan” kian terasa saat tiba salah satu penginapan dipintu gerbang kota Bungku, rapat didepan satu satunya SPBU di daerah itu. Meski pun harga penginapan relatif murah. Yakni, 100 ribu permalam yang gunakan kipas angin dan 200 ribu untuk kamar yang fasilitasnya AC. Tapi lagi lagi tidak adanya sistem transportasi dalam kota menjadikan harga menginap itu menjadi mahal karena terbatasnya langkah kaki.

“Tidak ada angkot atau pete pete disini pak. Ojek juga tidak ada, adanya taksi tapi harus ditelpon kalau bapak mau pakai,” kata seorang ibu yang mengaku awal jejakkan kaki di daerah ini juga bingung dengan tidak tersedianya transportasi umum.

Akhirnya, seluruh rencana yang dibuat sejak sebelum ke Morowali hampir dipastikan berantakan akibat tak tahu harus melangkahkan kaki menggunakan apa. Jalan kaki tentu bukan solusi yang tepat.

Menurut seorang pedagang makanan yang mengaku berasal dari Jawa Tengah kelahiran Tolitoli, tingginya biaya hidup didaerah tersebut disebabkan keberadaan perusahaan tambang nikel terbesar di Asia.

“Tambang nikel jadi penyebab tingginya biaya hidup didaerah ini. Dan yang paling sulit jika datang kesini tidak punya kendaraan, maka dipastikan akan kesulitan karena disini tidak ada angkutan kota atau transportasi lain yang bisa digunakan,” jelasnya.

Seperti diketahui. Kabupaten Morowali adalah salah daerah pemekaran kabupaten Poso yang kini berdiri sebuah perusahaan raksasa nikel asal negeri tirai bambu. Menurut sejumlah warga yang ditemui, tambang penyebab tingginya biaya hidup didaerah ini.

(AL)

Image and video hosting by TinyPic

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed