by

11 Bulan Pasca Bencana Palu, Warga Masih Tinggal di “Huntara”

TELEGRAFNEWS – Gempa dan tsunami yang mengguncang kota Palu 28 September 2018 silam menyisahkan kisah memiluhkan bagi seluruh masyarakat ibukota Sulawesi Tengah itu. Tidak hanya gempa dan tsunami, bencana maha dahsyat yang disebut likuifaksi juga membunuh dan melenyapkan ribuan nyawa.

Salah satu daerah yang terparah dihantam gelombang tsunami saat itu adalah pesisir Pantai Talise. Selain merontokkan jembatan kebanggaan kota Palu “Jembatan Kuning”, masjid Terapung yang berada didepan Pantai Talise juga rusak parah dan jangan tanya dengan bangunan yang ada disekitar lokasi itu. Pertokoan, hotel, SPBU dan ratusan rumah warga pun luluhlantak hampir tak berbekas.

Kini, 11 bulan usai bencana itu melanda, ternyata masih banyak warga kota Palu korban gempa dan tsunami yang hingga saat ini belum bisa kembali kerumah masing masing. Salah satunya Baktiar (58) warga yang mengaku dulunya bermukim di Jalan Cumi Cumi kelurahan Lere kecamatan Palu Barat sekitar 150 meter dari Jembatan Kuning. Baktiar masih menempati Hunian Sementara (Huntara) yang terletak di Jalan Diponegoro bersama 200 kepala keluarga yang lain.

“Saya masih tinggal di Huntara Diponegoro. Karena sampai sekarang rumah yang rata tanah belum nisa dibangun,” kata pria paru baya yang kehilangan istri saat gempa dan tsunami terjadi.

Lanjut Baktiar, beberapa hari pasca gempa dan tsunami, ada pendataan dari pemerintah. Yang didata adalah kondisi rumah dan bangunan warga.

“Waktu itu beberapa hri setelah tsunami, rumah rumah disini didata. Rusak berat, ringan dan sedang. Dan kami waktu itu dijanjikan untuk dapat ganti rugi. Tapi sampai hari ini belum pernah ada ganti rugi,” kata Baktiar yang sehari hari berprofesi sebagai nelayan.

(*/AL)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed