by

Ini yang dilakukan KKT Unsrat Selama 23 Hari “Kuliah” di Talaud

TELEGRAFNEWS- Membangun jiwa merdeka menuju bangsa besar menjadi tujuan dari Gerakan Nasional Revolusi mental sesuai instruksi presiden Nomor 12 Tahun 2016. Di dalamnya terkandung lima kerangka program unggulan, yakni, melayani, bersih, tertib, mandiri, dan bersatu.

Dari kelima sari pendekatan revolusi mental tersebut, ditunjang dengan adanya kerjasama Universitas Sam Ratulangi dengan Kementrian ATR/PUPR dan Kementrian PMK terkait mengubah perilaku masyarakat agar lebih sehat dan mandiri, menjadikan pedoman Institusi Unsrat, meramu kegiatan kedalam pokok capaian kerja KKT Angkatan ke-121, Tahun Akademik 2019-2020, bertemakan Revolusi Mental. Diikuti 3.632 Mahasiswa, disebar ke 200 Desa, 2 Kelurahan, Kabubaten Bolaang Mongondow dan Kabupaten Kepulauan Talaud sasarannya.  

Secara keseluruhan, ada 103 Mahasiswa yang mengabdikan diri di wilayah pasifik, Talaud. Menariknya, 50 persen dari mereka, baru pertama kali merantau, jauh dari tempat tinggal. Dan ikhlas melepas kebiasaan yang penuh dengan kemudahan.

Disana, mereka telah belajar, “kuliah” bersama masyarakat selama 23 hari. Sejatinya, KKT memang merupakan mata kuliah pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Sesuai yang diutarakan oleh Ketua pelaksana kegiatan KKT, Dr. Rignolda Djamaludin, M.Sc. Bahwa, KKT adalah soal pembelajaran hidup.

“Kehadiran mahasiswa ini memberikan suatu pandangan baru bahwa, mahasiswa, terutama tidak boleh melihat pulau adalah sesuatu yang rumit. Mereka harus menjadi contoh, mereka harus membuka jalan buntu.  Berani menjadi solusi, menjadi agen perubahan. Karena, menyelesaikan masalah di pulau, harus diselesaikan di pulau, tidak diselesaikan di luar pulau. Dan mereka berhasil membuktikan itu” Jelas Djamaludin usai mengunjungi dan berkomunikasi langsung antar pos komando KKT Unsrat Kabupaten Kepulauan Talaud.

Disana, Mahasiswa KKT mendirikan 7 posko  untuk menjangkau 10 Desa di Kecamatan Tampan’amma.

Tujuh posko itu bertengger di desa Ammat Induk (15 orang), Desa Ammat Selatan (15 orang), Desa Dapalan (15 orang), Desa Dapihe (15 Orang), Desa Riung dan Riung Utara (15 orang), Desa Binalang (14 Orang), Desa Tuabatu (14 Orang). Setiap posko melaksanakan dua program. Program tematik dan non tematik.

Program kerja tematik, berupa pembuatan peta desa, simdes, pengumpulan data warga, membuat video potensi desa, membuat profil desa, yang semuanya untuk memenuhi konten pembuatan website desa. Jika disepakati kontennya, akan dipubilkasi secara online. Selanjutnya, ada pun, program non tematik, dikembangkan secara mandiri oleh mahasiswa.

Program non tematik, dilaksanakan berupa kegiatan home Schooling, gerakan bersih desa, periksa tekanan darah, PHBS, mengajar di sekolah, penyuluhan hipertensi, edukasi wilayah bebas asap, pelatihan TIK, pembuatan tugu pembatas desa, membantu pembuatan jalan desa. Semuanya adalah jelmahan turunan dari program gerakan revolusi mental, sebagai  pendoman gerakan kemajuan bangsa.

Revolusi mental, banyak diterjemahkan dalam program tematik dan non tematik KKT Unsrat Talaud. Nilai-nilai integritas, etos kerja, dan gotong royong untuk membangun budaya bangsa yang bermartabat, modern, maju, makmur dan sejahtera, tercermin nyata dilapangan pengabdian KKT Unsrat Talaud.

Seperti halnya rincian kegiatan yang bersumber dari lima unsur penting gerakan revolusi mental Indonesia, baik itu melayani, bersih, tertib, mandiri, dan bersatu, direalisasikan tim KKT Talaud.

Petrama, realisasi gerakan melayani berupa peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui peningkatan perilaku pelayanan pemerintah desa kepada masyarakat. Sekaligus, pemaksimalan sistem pelayanan yang inovatif dan modern, seperti pembuatan website desa.

Kedua, realisasi gerakan Indonesia bersih dengan melakukan pendampingan, penanaman perilaku hidup bersih, kerja sama mengelolah sampah organik dan non organik. Apalagi, dijumpai, banyak desa-desa sudah terkapar sampah plastik. Baik itu datangnya dari darat maupun dari laut.

Ketiga, realisasi gerakan Indonesia tertib agar tertanan perilaku tertib administrasi, menumbuhkan lingkungan kekeluargaan, ramah dan bebas kekerasan. Semuanya terlihat saat keberadaan, penyambutan warga selama KKT berlangsung di desa pengabdian, berjalan dengan aman, damai dan penuh perhatian.

Keempat, realisasi gerakan Indonesia Mandiri melalui dorongan pertumbuhan kewirausahaan dan ekonomi kreatif, kreatifitas karya budaya dan warisan budaya, dengan mengeksplor potensi-potensi dan dijadikan video dokumentasi. Semuanya, agar dapat dipublikasi dan menjadi bahan daya tarik pihak luar.

Kelima, realisasi gerakan Indonesia bersatu berupa partisipasi institusi memilih wilayah KKT kabupaten kepulauan Talaud dalam mendorong peningkatan kesetiakawanan sosial, toleransi, peningkatan kebijakan mendukung persatuan dan kesetaraan pengetahuan.

Kelima hal di atas, memang sejalan, sebagaiman disampaikan koordinator P3KKTNT, Djamaludin, bahwa revolusi mental menjadi target kampus yang  aksinya harus dikondisikan sesuai keadaan di lapangan. Ada pun tiga target penting mahasiswa ketika turun KKT sebagiaman diurai oleh Djamaludin.

Personaliti building, Bagaimana mahasiswa membangun personalnya. Fokus melihat kepada individu yang mengalami kendala. Atau ada sesuatu yang perlu kami dorong”

Institusional building, Kita pingin juga, lewat KKT ada dampak terhadap pengembangan institusi, KKT pendekatanya terintegrasi antara riset, pengajaran dan pengabdian. Melalui KKT kita bisa memperbaiki metologi kita di kampus, termasuk mengintroduksi pengetahuan yang dibutuhkan masyarakat”

Community building, berharap ada perubahan dimasyarakat ketika melihat mahasiswa berproses dengan masyarkat. Apa lagi ini di pulau, itu bisa terbuka dengan kehadiran mahasiswa, paling tidak mendorong anak-anak sekitar untuk pergi kuliah, kemudian ada ide-ide pengembangan ekonomi ketika berdiskusi dengan mahasiswa, dan itu terekam ketika berdiskusi dengan beberapa perangkat desa. Bahawa, kehadiran mahasiswa ini adalah hal-hal yang betul berguna bagi mereka” Tutup Djamaludin, yang juga merangkap dosen pengawas lapangan.

Senada dengan dosen pembimbing lapangan, Yaulie Deo Y. Rindengan, ST, MSc, MM, yang ikut terlibat dalam kunjungan langsung di tujuh  titk posko KKT Talaud, Sabtu, (27/7/)2019. Beliau ikut merasakan pengaruh besar terhadap mental mahasiswa setelah program direalisasikan.

Mereka mampu dan tangguh. Baik dari sisi ketahanan, maupun kemampuan menghadapi tekanan psikologis karena hidup di wilayah serba keterbatasan. Apa lagi, diakui, ada beberapa desa pernah tidak dialiri listrik selama satu minggu. Akses komuniasi dan internet apa lagi, hampir semua lokasi pengabdian mereka terputus dari fasilitas itu” Ungkap dosen pembimbing lapangan, ketika datang secara dadakan di lokasi sasaran pelaksanaan KKT Talaud.

Diakui, kedatangan tim pengawas KKT, memang sengaja tidak diberi tahu kepada mahasiswa. Tujuannya, agar bertemu dengan aksi dan kondisi nyata di lapangan. Karena hal tersebut memang menjadi standart evalusi institusi dalam mengukur keberhasilan mahasiswa mengikuti mata kuliah pengabdian masyarakat.

“Kami punya standar untuk mengukur apakah mahasiswa mampu atau tidak. Nyatanya, mereka mampu. KKT ini secara keseluruhan, mengukur ketangguhan mahasiswa. Program telah beres. Tidak ada masalah serius dilapangan, keaktifan dan kehadiran mereka pun sangat  baik” Puji Rindengan.

Tentu, kunjungan diam-diam itu bukan tanpa maksud. Sebagaimana, kunjungan yang menguras waktu dan tenaga itu tak hanya menemui dan menguji ketangguhan mahasiswanya, namun hal tersebut, diakui menguji pula ketangguhan para dosen-dosennya untuk serius menjaga nama baik institusi dengan berani menjangkau secara langsung kondisi pelaksanaan KKT, meski melewati medan yang cukup menantang.

Mereka harus berbeda, mereka harus memiliki karakter institusi, karena mereka membawa nama baik institusi. Dan, kehadiran mereka disana merupakan kehadiran institusi, dosen pun harus punya ketangguhan serupa dan memiliki semangat yang sama. Kunjungan langsung ini buktinya” Sambung Djamaludin, Dosen penikmat udang laut, Lobster.

Akhirnya, Yaulie pun berpesan, menjadi sarjana memang tidak boleh mudah, sarjana harus melewati masa sulit. Dan berani keluar secara tangguh dari kesulitan itu. Harus menjadi sarjana tangguh. Dan ketangguhan hanya didapat ditempat yang melatih ketangguhan.

Mereka akan menjadi sarjana, mereka harus memiliki ketangguhan. Dan ketangguhan itu bisa didapat ditempat yang membuat ia tangguh. Melahirkan suatu memori yang akan mendorong diri mereka untuk maju. Karena kedepan, setelah lulus, akan banyak tantangan pembangunan yang harus mereka  hadapi” Tutup dosen pencinta kopi itu seraya memberikan sedikit nasehat.

Image and video hosting by TinyPic

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed