by

Aqua Dorong Peningkatan Kualitas Hutan Kaki Dian

TELEGRAFNEWS – Lokasi wisata Kaki dian dan kawasan Hutan Gunung Kalabat ternyata memiliki pengaruh dan potensi yang besar terhadap masyarakat.

Kawasan yang sekarang dijadikan tempat wisata, ternyata menyimpan potensi keanekaragaman hayati yang berlimpah dan harus dilindungi dari ancaman kerusakan dan pengrusakan khususnya oleh manusia.

Perubahan status dari Hutan menjadi Lokasi wisata juga dianggap mempengaruhi terjadinya degradasi potensi Keanekaragaman hayati (Kehati)
Menyikapi hal ini, Immanuel Adoeng dari PT Tirta Investama yang merupakan pengembang Produk air mineral Aqua, terus berupaya melakukan kegiatan yang sasarannya untuk meningkatkan kualitas kawasan.

“Kawasan ini memiliki ancaman terjadinya degradasi potensi, hal ini bisa dikarenakan penebangan Pohon dan alihfungsi lahan, untuk itu kami terus mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa kawasan ini memiliki sumber Sumber mata air yang harus dijaga lewat upaya pelestarian Hutan,” ujarnya dalam rilis yang diterima Telegrafnews, Sabtu (13/7) 2019.

Menurutnya, pihak Aqua sendiri sampai saat ini terus berupaya menjalin kerja sama dengan pihak-pihak terkait diantaranya DLHD Minut, Dinas Pariwisata, PD.Klabat, dan 2 kelompok masyarakat pengelolah kawasan sebagai bagian dari pengembangan kapasitas sehingga saat ini sudah ada pencapain -pencapaian yang maksimal.
“Sampai saat ini sudah ada 15 orang Anggota kelompok dan luasan areal program kehati mencapai kaki dian 3.6ha, bahkan sudah dibangun 1 unit rumah belajar,” tegasnya.

Dirinya menambahkan selama ini juga sudah ada upaya memfasilitasi pembentukan kelompok Biopori yang tujuannya menjaga resapan air.

“Kelompok ini sudah berjalan dan diharapkan kedepan akan berkembang secara kuantitas dan mampu memberikan penyadaran kepada masyarakat akan pentingnya cadangan air tanah, saat ini juga kami akan menfasilitasi penyediaan talang air bagi masyarakat,” ujarnya.

Keprihatinan akan potensi kawasan kaki dian dan Kalabat juga datang dari Pihak Kelompok Manengkel Solidaritas yang dalam beberapa tahun ini konsen melakukan Upaya-upaya pelestarian lingkungan termasuk program penyelamatan potensi Biodiversiti di kawasan kaki dian dan Kalabat secara umum.

Ketua kelompok manengkel Solidaritas Sella Runtulalo juga berharap kedepan upaya penyelamatan potensi di kawasan tersebut dilakukan secara masif oleh banyak pihak, langkah ini menurut dia sudah sangat mendesak karena kawasan di Kaki dia dan hutan kalabat pada umumnya terus mengalami degradasi kawasan.

“Potensi hutan, Mata air dan biodiversity di kawasan ini bisa saja hilang jika eksploitasi hutan dan pembukaan lahan untuk kawasan wisata terus dilakukan tanpa melakukan penyeimbangan,”ujarnya.

Sella mengatakan berdasarkan data yang dihimpun oleh Manengkel Solidaritas baru baru ini, Di kawasan tersebut ternyata dihuni oleh sedikitnya 28 jenis burung, 36 Jenis Pohon dengan mengunakan 12 demplot serta keanekaragaman hayati lainnya.

“Kami berharap potensi potensi tersebut termasuk Sumber mata air dapat dijaga dan terus dilestarikan masyarakat sekitar, sebab jika upaya pengrusakan terus dilakukan maka bukan tidak mungkin kawasan ini nantinya tidak memiliki daya dukung dan nilai positif bagi masyarakat,”ujarnya.

Namun demikian menurut dia, sampai saat ini pihaknya terus berupaya melakukan kerja sama dengan banyak pihak untuk secara bersama melakukan langkah langkah penyelamatan potensi kawasan Wisata Hutan dan Hutan di sekitar gunung Kalabat.

“Targetnya kedepan adalah adanya komitmen bersama yang dituangkan dalam satu kesepakatan untuk menjaga dan melestarikan kawasan Hutan Kaki dian dan Kalabat, serta tidak terjadinya pengalihan fungsi hutan secara masif, dan nantinya yang menyepakati ini adalah semua Stakeholders yang terkait lebih khusus masyarakat,” imbuhnya.

Pihaknya juga berharap, nantinya manfaat ek0nomi dari keberaaan Hutan dan kawasan dapat dirasakan oleh masyarakat.

”Paling penting adalah pengelolaan hutan secara sustainable dimana pengelolaannya berbasis masyarakat dan kami mendorong serta menfasilitasi adanya rencana strategis pengelolaan pengelolaan lingkungan baik jangka pendek, Menengah dan panjang; intinya masyarakat mendapat manfaat ekonomi,”ujarnya.

Melihat potensi kawasan wisata kaki dian dan Hutan kalabat, pemerintah Provinsi sendiri melalui Badan Pelestarian Lingkungan Hidup (BPLH) juga melakukan langkah pencegahan terjadinya kerusakan lingkungan di kawasan tersebut.

“Kami melakukan sosialisasi ke masyarakat terkait Ancaman ancaman apa saja yang bisa berdampak pada kerusakan alam, dan solusinya juga kami sampaikan, contohnya soal sampah plastic yang harus ditangani secara khusus,”ujar Delson dari pihak Badan Pelestarian Lingkungan Hidup.

Dia mengatakan sebagai langkah kongkrit yang dilakukan oleh pihaknya adalah bekerja sama dengan Kelompok ‘Bank Sampah’ untuk mengumpulkan dan melakukan pengelolaan sampah plastic dan an organic lainya menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomis.

Sementara itu pasca dijadikannya kaki dia sebagai kawasan Wisata religi, kawasan ini tidak lepas dari permasalahan mampu merusak potensi kawasan.

Hal ini sendiri dibenarkan oleh Leo lumepouw selaku perwakilan dari PD Kalabat yang berharap keterlibatan dari banyak pihak khususnya kelompok seperti Manengkel Solidaritas yang bisa bekerjasama melakukan opaya penyelamatan lingkungan.

“Kawasan ini memang harus dikembangkan sebagai kawasan wisata, namun harus dijaga kelestariannya dan hal tersebut perlu keterlibatan banyak pihak, “ujarnya.

Pengembangan kawasan Wisata seperti kaki dian sendiri juga mendapat support dari pemerintah provinsi yang memang terus mendorong Sulawesi Utara sebagai daerah tujuan Wisata Populer di Sulawesi Utara.

“Pada dasarnya pemerintah provinsi mendukung adanya upaya peningkatan kawasan wisata di Sulawesi Utara, termasuk yang di Minahasa Utara,”tegas kepala Dinas Pariwisata Sulut Daniel Mewengkang yang dihubungi terpisah.

Sampai saat ini, beberapa kelompok yang intens memberikan sumbangsih pada penyelamatan dan upaya kelestarian kawasan diantanya kelompok Bank Sampah dan Tunas Kalabat.

Untuk Tunas kalabat saat ini dikoordinir oleh Alfred Naharia, upaya yang kongkrit mereka lakukan adalah dengan melakukan kontrol terhadap upaya pembalakan liar dan bersama masyarakat melakukan edukasi akan pemberdayaan lingkungan yang bernilai ekonomis tanpa merusak habitat. Hal yang sama juga digalakan oleh kelompok Bank Sampah yang dikoordinir oleh Jemmy Pantolaeng yang sampai saat ini eksis dengan sosialisasi terkait pentingnya Biopori sebagai temuan baru yang berguna untuk menambah potensi Serapan-serapan air. (Ind)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed