by

Stefanus Hendrianto, SJ: dari Aktivis 1998 Jadi Imam Katolik di Amerika

-Religi, Talaud-68 views

TELEGRAFNEWS – Sabtu (8/6)2019, jadi hari istimewa bagi Tarekat Jesuit dan Gereja Katolik. Hari itu sebanyak 22 anggota Tarekat Jesuit ditahbiskan menjadi imam di Amerika. Menariknya, satu dari mereka adalah putra Indonesia yang merupakan mantan aktivis 1998.

Dia adalah Stefanus Hendrianto, SJ atau yang akrab dikenal oleh rekan aktivis ’98 saat itu sebagai Henri Kuok.

Stefanus Hendrianto lahir di Bangka, 13 April 1974. Ia kemudian menempuh pendidikan Sarjana Hukum di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Saat pecah aksi 1998, ia menjadi bagian aktif dari gerakan mahasiswa yang melawan rezim otoriter Soeharto, yang sudah berkuasa selama 32 tahun.

Namun, siapa sangka, jalan hidup perwakilan PRD di KPU pada Pemilu 1999 itu kemudian berubah saat ia memutuskan meninggalkan tanah air dan studi di Amerika. Dimana ia memilih jalur hidup selibat dan ditahbiskan pada 8 Juni 2019 bersama 21 rekannya sebagai imam Jesuit.

Seperti dilansir Katoliknews.com, Pasca Soeharto jatuh, ia meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan studi pascasarjana di Belanda dan memperoleh gelar Magister Hukum di Universitas Utrecht.

Tamat dari Belanda, dia kembali ke Indonesia dan bekerja di bidang legal kantor Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) di Jakarta.

Setelah itu, ia kembali keluar negeri dan mendapatkan gelar Ph.D. dalam bidang hukum di Fakultas Hukum Universitas Washington di Seattle.

Dia disebut mengalami pertobatan iman yang mendalam saat terlibat di di Newman Catholic University Washington.

“Adalah para Dominikan di Newman Center yang menanamkan benih panggilan untuk imamat (dalam dirinya), tetapi pada akhirnya, Hendrianto memutuskan untuk bergabung dengan Serikat Yesus setelah bertemu dengan Pater Robert Spitzer, SJ,” demikian menurut situs resmi Jesuit.

Masih menurut Katoliknews.com, setelah menyelesaikan gelar Ph.D, Hendrianto memasuki novisiat pada tahun 2009, di mana ia kemudian terlibat membantu pelayanan kampus di Universitas Gonzaga di Spokane, Washington.

Selanjutnya, ia diutus ke Loyola University Chicago, tempat dia belajar filsafat. Hendrianto kemudian menghabiskan dua tahun di Universitas Santa Clara di mana ia mengajar hukum dan di departemen ilmu politik.

Dia juga bertugas sebagai penasihat akademis, dan membantu mendirikan Asosiasi Mahasiswa Hukum Katolik.

Setelah dari Universitas Santa Clara, Hendrianto pindah ke Universitas Notre Dame, tempat ia menulis dan meneliti di Kellogg Institute for International Studies.

Pada musim gugur 2016, ia mendaftar di Boston College School of Theology dan Ministry, di mana ia mendapatkan gelar Master of Divinity dan Master of Theology.

Saat di Boston, ia memimpin program pengarahan spiritual untuk wanita di rumah bersalin  dan para tunawisma yang membutuhkan tempat tinggal dan dukungan.

Dia juga bertugas di Massachusetts Correction Institution at Concord.

Setelah ditahbiskan menjadi diakon, ia melayani Paroki St. Michael di Bedford. (rey/Katoliknews.com)

Image and video hosting by TinyPic

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed