by

Peluang dan Tantangan Caleg Perempuan Pada Pemilu 2019

TELEGRAFNEWS – Perempuan sepertinya masih jadi alternatif pilihan pemilih disetiap momen pesta demokrasi. Terbukti, di pemilu terakhir pada 2014 silam presentase perempuan yang duduk di parlemen di 15 kabupaten kota masih jauh dari harapan.

” Perempuan sebenarnya punya potensi besar untuk bisa jadi wakil rakyat. Hanya saja banyak caleg perempuan seperti tidak serius ikut kontestasi pemilu, bahkan banyak yang hanya dipaksa dan terpaksa untuk melengkapi komposisi yang tersedia,” kata salah satu pengamat politik asal Universitas Samratulangi, Manado, Efvendy Sondakh,SIP., M.Si, Senin (18/3)2019.

Pria yang juga adalah Direktur Politik Intelektual Muda Sulut ini menambahkan, jika ingin terjun kedunia politik praktis, sebagai calon legislatif, seharusnya politisi perempuan banyak belajar. Karena di Sulut sejumlah kepala daerah justru adalah perempuan yang memulai karir politiknya sebagai anggota dewan.

” Saya menganggap dunia politik ini keras, wajib bagi siapapun yang ingin terjun didunia politik untuk belajar banyak hal. Yang utama belajar menerima kekalahan sehingga tidak membuat para calon ini kecewa jika tidak terpilih, yang akhirnya dimomen politik berikutnya sudah tidak lagi bersedia ikut dan kemudian parpol kembali lagi harus mencari calon yang notabene baru didunia politik. Intinya politisi itu tidak boleh cengeng apalagi politisi perempuan yang biasanya lebih mengedepankan perasaan daripada insting politik. Saya menganggap sekali terjun ke dunia politik bukan hal mudah untuk ditaklukan tapi ketika bisa dilewati menjadi indah, karena politik adalah seni,” jelasnya.

Sondakh menambahkan, pada Pemilu 2019, peluang perempuan semakin diperkuat untuk bisa terpilih menjadi wakil rakyat dengan lahirnya aturan 30 persen keterwakilan perempuan pada susunan calon anggota legislatif yang diusung parpol.

” Aturan 30 persen keterwakilan perempuan di UU 7/2017 membuka ruang kepada caleg perempuan untuk bisa tampil lebih dibanding pemilu pemilu sebelumnya. Yang penting mereka bisa meyakinkan masyarakat pemilih bahwa kehadiran mereka digedung wakil rakyat benar benar bisa bermanfaat, bukan sekedar pelengkap keterwakilan perempuan itu sendiri,” jelasnya.

Esensi politik menurut Sondakh adalah kepercayaan.

“Esensi dari politik adalah kepercayaan, tingkat kepercayaan publik terhadap caleg tidak berbanding lurus dengan kenyataan dilapangan. Yang paling rumit adalah, ketika popularitas di konversi ke elektabilitas memerlukan waktu yang panjang,” pungkasnya.

(Arham Licin)

Image and video hosting by TinyPic

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed