by

Pramono Sebut 14 Juta Pemilih Disabilitas Mental dan Grahita HOAX PEMILU

TELEGRAFNEWS – Selama ini masih beredar kabar (yang juga hoax) soal pemilih penyandang disabilitas mental dan grahita. Kalau diperhatikan, hoax itu bisa dipilah menjadi dua bagian. Ini disampaikan Komisioner KPU RI Pramono U Tanthowi, Rabu (16/1)2019.

Menurut Pram sapaan akrab mantan Ketua Umum IMM ini, pertama, mereka gunakan istilah “pemilih gila”. Padahal istilah bakunya adalah “disabilitas mental dan grahita” (versi KPU) dan “gangguan jiwa dan/atau ingatan” (versi MK). Sementara, “gila” hanya bagian kecil sekali (dengan stadium berat) dari gangguan jiwa/disabilitas mental. 


” Nah, perlu dijelaskan (lagi) bbrp hal. (1) Ada Putusan MK No. 135/2015. Jadi KPU mengambil kebijakan ini tdk ngarang2. Tapi ada landasan konstitusionalnya. (2) KPU tdk mendata orang gila yg menggelandang di jalan2 (sebagaimana Putusan MK), tapi yg sdg dirawat di RS dan panti. (3) Pendataan seperti ini telah dilakukan sejak lama. Termasuk Pemilu 2014 maupun Pilkada serentak 2015, 2017, dan 2018,” jelas Pramono.


Kedua kata Pram lagi, jumlahnya yang fantastis, yakni 14 juta. Atau sama dengan 7,37% dari DPT. Ini juga hoax. Kalau dicek, ternyata info itu berasal dari Kementerian Kesehatan yang bilang bahwa ada sekitar 14 juta orang Indonesia yang mengalami gangguan emosional, dan ada 400 ribu yang mengalami gangguan jiwa berat. 


” Nah, lalu berapa jumlah pemilih penyandang gangguan mental dan grahita yang valid? Dalam DPTHP2 yang ditetapkan pada 16/12/2018 lalu ternyata hanya ada 54.295 (0,029%). Jauh sekali di bawah angka 14 juta yang dituduhkan itu,” ungkap pria yang berulang tahun pada 17 Januari ini. (ARHAM LICIN/Red)

Image and video hosting by TinyPic

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed