by

Pemberian Nama Anak Dalam Budaya Bali

-Budaya, Opini-165 views

TELEGRAFNEWS – Ada yang menarik dari kicauan salah satu netizen di twitter, Kamis (10/1)2019, akun twitter @pasektohpati membahas budaya cara pemberian nama dalam keluarga Bali.


Menurut @pasektohpati nama nama depan khas orang Bali itu sejatinya tidak lebih sebagai semacam penanda urutan kelahiran sang anak, dari pertama hingga keempat. Ada juga nama nama orang Bali biasanya menyebutkan asal asul dari Keturun/Soroh/Kawitan/Leluhur.


Nama anak pertama dalam keluarga Bali biasanya diberi awalan “Wayan”. Wayan diambil dari kata Wayahan yang artinya tertua/lebih tua, yang paling matang. Dan ada juga yang menggunakan “Putu” “Gede”Untuk anak laki laki, ditambah “I” menjadi  “I Gede” “I Wayan” “I Putu” dan seterusnya. Untuk anak perempuan, ditambah “Ni” menjadi “Ni Wayan” “Ni Putu” dan seterusnya. 
Untuk nama anak kedua diberi awalan “Made” dari kata Madya. Di beberapa daerah di Bali, anak kedua ini juga kerap diberi nama depan “Nengah” yang juga diambil dari kata tengah. Ada juga yang menggunakan kata “Kadek” merupakan serapan dari “Adi” yang kemudian menjadi “Adek” yang bermakna utama, atau adik.


Sedangkan nama anak ketiga biasanya diberikan nama depan “Nyoman”  “Komang” yang diambil dari kata nyeman (Tawar). di analogikan mengambil perbandingan suatu rasa anak ke-1 dan ke- 2, jika yang ke-3 akan menjadi tawar. Jadi menurut pandangan hidup kami, sebaiknya sebuah keluarga memiliki 3 anak saja. Setelah beranak 3, kita disarankan untuk lebih “bijaksana”.
Nama Anak keempat  biasanya diawali dengan sebutan “Ketut”, yang merupakan serapan “Ke tambah Tuut” – ngetut yang bermakna mengikuti atau mengekor. Ia adalah anak bonus yang tersayang. 


Untuk membedakan jenis kelamin, orang Bali mengawali setiap nama dengan menambah satu kata lagi, yaitu Awalan “I” untuk anak lelaki Awalan “Ni” untuk anak perempuan.
Ada 6 urutan nama atas soroh/golongan masyarakat di Bali,Soroh Brahmana, biasanya namanya diawali dengan Ida Bagus (laki-laki) atau Ida Ayu (perempuan), Ida Ayu bisa disingkat jadi Dayu.


Soroh ksatria tapi untuk keturunan raja-raja. Biasanya namanya diawali dengan “Cokorda”. Soroh ksatria juga tapi untuk keturunan anak-anak raja yang tidak menjadi raja (bukan putra mahkota). Biasanya namanya diawali dengan “Anak Agung “.

Masih ksatria, tapi untuk keturunan pendekar-pendekar. Biasanya namanya diawali dengan Dewa (laki-laki) atau Desak (perempuan).
Soroh Vaisya, yaitu untuk orang orang terpandang, misalnya pengusaha, pemilik sawah dan lain-lain, tapi tidak termasuk dalam lingkungan puri/kerajaan.
Orang Bali biasa yang tak memiliki kedudukan dalam pemerintahan di zaman dahulu, karena hanya orang biasa seperti buruh, petani dan lainnya. Biasanya namanya tidak menyandang berbagai gelar seperti yang disebutkan di atas, langsung saja “Ni Luh” “Ketut” “Made” “Nyoman””Gede””Putu””Wayan”.(By.Pasek Tohpati)

Image and video hosting by TinyPic

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed