by

Begini Kondisi Pencarian Korban Lion Air JT 610

TELEGRAFNEWS – Pencarian korban dan badan pesawat Lion Air JT 610 terus berlanjut. Kapten Made Oka memegang kendali kapal. Di tangan kirinya, sebuah tuas hitam digenggam. Alat itu menjadi pengontrol arah laju KN SAR Sadewa 231 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

“Cek kapten, cek, tim menemukan objek di dasar laut,” Suara parau datang dari monitor suara. Made langsung berbisik kepada laki-laki berusia 20-an di sampingnya. Sama dengan Made, pria itu berseragam Basarnas.

Setelah dibisiki sesuatu, pria di samping Made mencorat-coret buku folio bergaris. Buku itu ada di depannya, di atas sebuah dashboard kapal. “Kedalaman 28-30 meter, koordinat 05 derajat, 47’03″S; 107 derajat, 10’20″E,” tulisnya cekatan.

“Tapi ini masih lokasi sementara ya,” kata Made. Ia berbicara kepada Tempo, Selasa siang (30/10) 2018.

Made adalah Kepala Seksi Operasi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Jakarta. Ia menjadi salah satu koordinator regu pencari korban dan bangkai pesawat Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin pagi, (29/10) lalu.

Laporan yang ia dapat barusan berasal dari salah satu tim yang tergabung dalam Basarnas Special Group (BSG). BSG bertugas mencari keberadaan lokasi pesawat Lion Air dan korbannya yang diyakini tenggelam di dalam laut. Mereka dibantu empat kapal KRI Rigel yang memiliki sistem sonar untuk mendeteksi objek di dasar laut.

Empat kapal itu diterjunkan di laut sejak tiga hari lalu. Titik bangkai pesawat pun masih simpang siur kala itu. Antara ya dan tidak, di titik x atau bukan. Pencarian dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri atas penyelam khusus dan tim di atas permukaan. Para penyelam ini akan bertugas mulai pagi sampai sore.

“Pokoknya mengikuti cahaya matahari saja,” kata Made. Para penyelam berdatangan dari Basarnas Jakarta, Bandung dan Cirebon. Jumlahnya diperkirakan puluhan. Mereka akan berkelana di laut dengan kedalaman 30-35 meter dari permukaan.

Dikepung kapal, penyelam akan menyebar dengan luas 4 nautical miles. Bila diukur dalam kilometer, luas itu mencapai 16 kilometer.

Menurut cerita Made dari para penyelam, kondisi dalam laut sangat menantang. Arusnya kencang dan berlumpur. Jarak pandang penyelam pun terbatas. Mereka dibekali dengan tabung standar penyelaman 180 bar yang rata-rata hanya bertahan 30-45 menit penyelaman.

Masing-masing penyelam bergantian turun. Tak ada yang jor-joran menyelam terus. Sebab, kondisi mereka harus fit. Bila sudah sekali menyelam, masing-masing butuh jeda untuk istirahat.

Selain penyelam, petugas yang bertugas adalah tim permukaan. Anggotanya menyebar di 28 kapal gabungan. Mereka bertugas melakukan penyisiran menggunakan perahu-perahu karet untuk mencari korban yang mengambang atau bagian kapal yang ada di permukaan laut.

Seorang anggota Basarnas dari kantor Jakarta yang tak mau disebutkan namanya mengatakan penyisiran itu tak kalah menantangnya dengan si penyelam. Mereka harus berhadapan dengan gelombang yang tak tentu.

Mata masing-masing petugas harus jeli melihat benda-benda mengambang. Ada perasaan lega sekaligus tragis ketika menemukan mayat yang tak utuh. (Mart/TMP)

Sumber: Tempo

Image and video hosting by TinyPic

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed