Menu

Ini Gazebo Bambu Paling Unik di GMIM Expo, Milik Wilayah Pinasiowan

  Dibaca : 666 kali
Ini Gazebo Bambu Paling Unik di GMIM Expo, Milik Wilayah Pinasiowan
Satu-satunya gazebo bambu di GMIM Expo milik wilayah Pinasiowan, Kecamatan Kakas Barat. (FOTO: Ist)

TELEGRAFNEWS – Ada hal menarik dan unik pada pelaksanaan GMIM Expo tahun 2018 bertempat di wilayah Kalawat I, Kabupaten Minahasa Utara. Yah, gazebo berbahan dasar bambu di stand wilayah Pinasiowan, Kecamatan Kakas Barat itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

    

Bagaimana tidak, gazebo yang dibuat oleh Jemaat GMIM Immanuel Passo ini berbalutkan kesederhanaan. Meski demikian, gazebo ini banyak dipuji bahkan diminati para tamu/pengunjung.

Buktinya, memasuki tiga hari pelaksanaan GMIM Expo dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) GMIM bersinode ke-84 sejak dibuka pada Senin (24/9) 2018, stand wilayah Pinasiowan tak pernah sunyi. Baik tua maupun muda berbondong-bondong mengunjungi lokasi stand tersebut.

Menurut penuturan Hanny Rakian, sejak dibukanya pelaksanaan GMIM Expo ini, lokasi stand Pinasiowan banjir pengunjung.

“Setiap hari banyak tamu yang datang hanya ingin melihat gazebo bambu dan berfoto. Bahkan, sudah beberapa kali mengganti buku tamu karena saking banyaknya pengunjung,” ungkap koordinator pembuat gazebo bambu ini.

Ketika ditanya soal proses pembuatan gazebo tersebut, Hanny menjelaskan, desain sebenarnya sudah ada, tinggal membuat sesuai yang digambar.

“Sebenarnya gazebo ini sudah kami persiapkan, bahkan desain gambarnya sudah ada sejak lama. Kerinduan kami pun untuk membuat gazebo ini sudah lama,” ungkapnya kepada TelegrafNews.

Lebih lanjut Hanny yang juga dikenal sebagai pengrajin bahan-bahan bekas/sampah di Desa Passo ini mengatakan, pembuatan gazebo bambu ini bukan tidak beralasan, selain mengangkat budaya Minahasa, konsep ini dipilih sebagai sarana untuk menjadikan bahan baku bambu lebih bernilai.

“Pembuatan gazebo berbahan dasar bambu ini sebenarnya bisa menjadi nilai tambah, karena selain bambu mudah didapat di daerah ini, kerajinan ini pun bisa dibilang sangat bernilai,” katanya.

Mengenai pembuatan, kata Hanny, pihaknya memproses dengan jangka waktu yang cukup lama, selama satu hingga dua bulan.

“Pengerjaan gazebo ini memakan waktu selama satu bahkan hampir dua bulan, selama pembuatan memang tidak mengalami kendala,” ujarnya.

Pertama-tama, kata dia, yang dipersiapkan adalah bahan bakunya yakni bambu kemudian dikeringkan. Setelah kering, mulai dengan pembuatan serta pemasangan rangka tiang.

“Setelah semuanya terpasang, baru kami mulai mengecat,” tuturnya.

Ketika ditanya soal harga dari gazebo bambu tersebut, Hanny menyampaikan, taksirannya berkisar Rp20-30 jutaan.

“Memang kami belum memberikan harga, karena dipikiran kami adalah gazebo bambu ini untuk dipamerkan. Akan tetapi jika ada yang tertarik dan ingin membelinya, harga yang kami bisa tawarkan kisaran Rp20-30 juta per satu unit,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua BPMW Pinasiowan Pdt Reflita Talumewo menjelaskan, supaya lokasi ini semakin indah dan menarik, maka di bagian luar dilengkapi dengan alat-alat pertanian serta kelautan karena merupakan potensi daerah.

“Kami pajang diantaranya perahu yang biasa digunakan nelayan di Danau Tondano, alat musik seperti tambur dan tatengkoren, roda sapi dan gerobaknya. Khusus gerobak, merupakan tempat mengangkut hasil pertanian yang dipanen. Sedangkan roda sapi mengartikan perjalanan GMIM ke depan agar semakin baik,” tutur Ketua BPMJ GMIM Immanuel Passo ini. (Mart)

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional