Menu

Mengintip Keseharian Biksu Milenial di Mongolia

  Dibaca : 1838 kali
Mengintip Keseharian Biksu Milenial di Mongolia
Biara Amarbayasgalant (Foto: Thomas Peter/ REUTERS)

Di Mongolia, masa depan dan eksistensi agama Buddha terletak di tangan generasi milenialnya.

Dilansir Reuters, para biksu muda semakin diberi kendali atas biara-biara di Mongolia sejak demokrasi pada 1990. Jauh sebelumnya, umat Buddha di negara ini mengalami masa lalu yang kelam yaitu pembunuhan massal yang dilakukan rezim Stalin pada akhir 1930-an. Sekitar 17.000 biksu dibantai.

Sekarang, para biksu yang berusia 20 dan 30-an tahun ditugaskan untuk memimpin generasi Buddha berikutnya. Untuk menyebarluaskan idealisme Buddha, para pemuka agama berusaha mempertahankan eksistensi dengan cara yang lebih fleksibel. Cara tersebut diterapkan salah satunya oleh biara tempat Lobsang Tayang (29) bernaung, Amarbayasgalant, di Mongolia utara.

Di Amarbayasgalant, para biksu muda diperbolehkan rehat dari kegiataan keagamaan dengan bermain bola basket serta memiliki akses internet meski masih 3G. Sesekali para biksu muda ini juga diperbolehkan menerima panggilan telepon, meski dibatasi. Kepala biaranya sendiri masih berusia 35 tahun. Usia yang relatif muda untuk seorang kepala biara.

Setelah empat tahun menimba ilmu, Tayang sudah mengajar dua biksu muda, sebuah posisi yang biasanya bisa dicapai setelah berpengalaman selama 20 tahun.

Dengan rendah hati, Tayang justru mempertanyakan kapabilitasnya menjadi seorang pengajar biksu.

“Saya merasa belum mendapatkan cukup pengetahuan, jadi saya berpikir, ‘Apakah benar bagi orang lain untuk memanggil saya guru ketika saya sendiri masih belajar?,” tanyanya.

Kegiatan rutin Lobsang Tayang dimulai pada pukul tujuh pagi. Dia membangunkan dua muridnya, Batkhan Tuul (10) dan Temuulen (11) untuk menguji memori mereka soal kitab suci dan melantunkan puji-pujian. Di sore hari, para biksu muda ini mendapat mata pelajaran seperti matematika dan sastra.

Menjadi biksu merupakan pilihan yang tidak biasa di dunia modern, dan menemukan anak-anak yang bersedia untuk menjadi biksu juga lumayan sulit. Tidak jarang, menjadi seorang biksu lebih banyak didasari atas keinginan orang tua terhadap anak-anak mereka.

Ibu dari Temuulen, Badamkhand Dambii, menceritakan reaksi putranya saat pertama kali membicarakan soal menjadi biksu.

“Dia tidak menyukai ide itu karena dia takut pada lukisan dan altar dewa,” kata Dambii.

Butuh beberapa waktu untuk mengajak Temuulen datang ke Amarbayasgalant.

Mendapatkan anak-anak yang ingin datang ke biara saja sudah kepalang sulit, apalagi menjaga mereka agar tetap betah di sana. Para pemuka agama Buddha menganggap ini adalah sebuah tantangan tersendiri bagi mereka.

“Saat ini sangat jarang menemukan biksu yang bisa tetap setia pada sumpah mereka,” kata Lobsang Tayang.

Pasalnya, banyak biksu yang tumbuh di biara merindukan dunia luar. Mereka memang masih bisa pergi ke luar meski hanya diperbolehkan berkunjung dua kali dalam setahun selama dua minggu.

Lobsang Rabten, wakil kepala Amarbayasgalant juga mengungkap kesulitan untuk mengembalikan masa kejayaan biara dan Buddhisme.

“Sangat mudah untuk menebas habis hutan, bukan? Tapi butuh waktu yang lama pula untuk menumbuhkan satu pohon saja,” ujar Lobsang Rabten, yang menganalogikan regenerasi biksu seperti pepohonan di hutan.

Untungnya, Temuulen yang pada awalnya takut dan tidak menyukai arahan ibunya untuk menjadi seorang biksu, kini berkomitmen untuk masa depan di Amarbayasgalant dan berharap untuk membantu “meremajakannya”.

“Ketika saya tumbuh besar, mudah-mudahan Amarbayasgalant bisa menjadi lebih besar dan terkenal. Semoga banyak anak akan datang,” harapnya.(rds)

sumber: kumparan

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional