Menu

Joseph Goebbels, Kehidupan Si Kerdil yang Kejam

  Dibaca : 235 kali
Joseph Goebbels, Kehidupan Si Kerdil yang Kejam
Joseph Goebbels (Foto: Wikimedia Commons)

TELEGRAFNEWS – Paul Joseph Goebbels lahir pada 29 Oktober 1897 di lingkungan keluarga Katolitk taat di Rheydt, sebuah daerah perindustrian di selatan Monchengladbach, Rineland. Ayahnya, Friedrich Goebbels, bekerja sebagai juru tulis di sebuah pabrik, sedangkan ibunya, Marian, bekerja sebagai petani.

Goebbels masuk ke sekolah lokal yang mengajarkan tata bahasa dan menyelesaikan pendidikannya pada 1916. Ia terkenal sebagai seorang yang cerdas, terbukti dengan didapatkannya gelar Ph.D untuk literatur dan filsafat dari Universitas Heidelberg hanya dalam waktu 5 tahun saja.

Selama menyelesaikan pendidikannya, Joseph Goebbels berada di bawah bimbingan Friedrich Gundolf, seorang sejarawan kesusateraan Yahudi yang dikenal sebagai sarjana Goethe. Ia juga dekat dengan penyair Stefan George dan Max Freiherr von Waldberg.

Kedua orang itu sangat memuji kecerdasan Goebbels, yang menurutnya tidak semua orang dapat memiliki pemikiran seperti itu. Joseph Goebbels meraih gelar doktornya dengan meneliti mengenai novelis romantik abad ke-18, bernama Wilhelm von Schutz.

Setelah meraih gelar doktor, Goebbels bekerja sebagai wartawan, penulis, dan sempat bekerja di bagian administrasi bank hingga tahun 1923. Ia pun pernah menulis beberapa sajak, puisi romantis, dan beberapa novel, salah satunya berjudul Michael: ein Deutsches Schicksal in Tagebuchblattern, pada 1926.

Dari karya-karya seninya, Joseph Goebbels memperlihatkan adanya kerusakan psikologis akibat keterbatasan fisiknya. Sehingga ia menciptakan karyanya selalu berlawanan dengan sifat dirinya. Seperti dalam karya Michael, ia membuat tokoh khayalan yang memiliki fisik sempurna dan tak terkalahkan bak seorang pahlawan

Joseph Goebbels bukanlah sastrawan yang sukses, karya-karya puisi dan sajaknya tidak pernah ditampilkan dalam panggung kesenian, bahkan karya novelnya sering kali ditolak oleh penerbit buku.

Ditambah keinginannya untuk menjadi tentara, yang nampaknya tidak akan pernah dapat terwujud. Pada masa-masa keterpurukan itu, Joseph Goebbels banyak membaca buku-buku politik.

Pandangannya banyak dipengaruhi oleh Friedrich Nietzsche, Oswald Spengler, dan yang paling besar berasal dari Houston Stewart Chamberlain. Houston adalah salah seorang pelopor paham anti-Semit dan penulis buku The Foundation of the Nineteenth Century, yang menjadi buku acuan bagi kaum ekstrem kanan di Jerman.

Selain itu ia banyak belajar pada Anton Graf von Arco auf Valley, seorang nasionalis yang anti-komunis dan sangat menolak revolusi yang dilakukan kaum komunis di Bavaria.

Goebbels pernah ditolak ketika ingin bergabung dengan militer Jerman untuk Perang Dunia I. Dirinya ditolak karena kakinya bengkok, serta ditopang beberapa pen dan besi kecil untuk menegakkan posisi kakinya, sehingga ia harus menggunakan sepatu khusus yang menutupi bentuk kakinya itu.

Kakinya mengalami kecacatan karena ketika kecil ia menderita penyakit polio, yang mengakibatkan bentuk kakinya tidak sempurna, bahkan harus berjalan pincang seumur hidupnya.

Alasan lain ditolaknya Joseph Goebbels dalam kemiliteran Jerman adalah karena ia memiliki emosi yang tidak stabil akibat kecacatannya itu, bahkan dikemudian hari Joseph Goebbels menjadi orang yang sangat kejam ketika orang-orang berkomentar pada keadaannya.

Hal itu membuat sifat yang dibangunnya menjadi sangat buruk ketika berhubungan dengan keadaan fisiknya, serta kecerdasannya dianggap terlampau tinggi. Tubuhnya yang pendek, sekitar 165 cm, menurut ukuran orang Eropa sering menjadi ejekan, terutama dari lingkungannya yang sangat memuja kesempurnaan fisik. (rds)

Sumber: Ballck, Luger. 2007. 7 Tokoh Kunci Nazi. Jakarta: Visimedia

Foto: history.com

sumber: kumparan

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional