Menu

3 Tahun Berstatus Honorer, Begini Kisah Gadis asal Bolmong Mengajar Anak Penderita Autis  

  Dibaca : 1086 kali
3 Tahun Berstatus Honorer, Begini Kisah Gadis asal Bolmong Mengajar Anak Penderita Autis  
Kecerian ditunjukan Friska Rumbay sebagai tenaga pendidik anak-anak berketerbelakangan mental di AGCA Center, Manado. (FOTO:Indah/TelegrafNews)

TELEGRAFNEWS — Selain mulia, menjadi seorang guru adalah kebanggan setiap orang,  seperti itulah yang dirasakan FRISKA RUMBAY. Walau hanya berstatus honorer (non ASN), Friska dalam melaksanakan profesinya sebagai tenaga pendidik, dilakoni dengan tulus hati dan penuh keikhlasan.

Gadis periang, asal Bolaang Mongondow (Bolmong) Sulawesi Utara, tak pernah putus asa, sejak 3 tahun lalu mengabdi dan mendedikasikan diri mengajari anak-anak yang memiliki keterbelakangan mental.

3 tahun bukanlah waktu singkat. Apa lagi, Friska sapaan akrabnya, sehari-hari, dituntut ekstra tegar, kuat, serta sabar menghadapi perilaku anak-anak yang  90 persen merupakan penderita Autis. Butuh kekuatan ekstra, dalam mendidik, mengajar, membagi ilmu, terutama membentuk karakter  anak didiknya  yang bersekolah di AGCA Center, salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) di jalan  Pumorow, nomor 56, Kelurahan Banjer, Kecamatan Tikala, Manado.

Dengan penuh kesabaran dan ketekunan Friska Rumbay, begitu senang mendedikasikan diri mengajari siswa penderita Autis. (FOTO:Indah/TelegrafNews)

Apa itu Autis? Autis adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan anak dalam berkomunikasi, interaksi sosial, dan perilaku. Sampai saat ini belum ada peneliti yang tahu akan penyebab penyakit Autis ini. Mengetahuinya, anda pasti bisa membayangkan, bagaimana suka duka mengajari anak-anak Auits yang juga merupakan generasi penerus bangsa.

Tepat di momen hari pendidikan nasional (Hardiknas), Kepada TelegrafNews, Friska Rumbay, sedikit membagikan tips di tengah suka dukanya, mengajari anak-anak penerus bangsa yang memiliki keterbelakangan mental ini.

“Hemmm, yang tidak enak kalau ada anak tantrum, kadang mereka suka mengamuk. Bahkan, tak jarang mereka memukul menggunakan apa saja yang dipegang. Belum lagi,  mereka kalau hendak buang air besar, “ kisah Friska sambil tersenyum.

Sebagai guru, dirinya, sudah terbiasa menghadapi perilaku siswanya seperti ini. Sebab,  dalam tugas bukan hanya mengajar, namun ikut  membantu anak-anak, sebagai  penderita Autis mereka belum bisa mandiri.

“Memanglah berat, tapi saya rasa kami sudah ada ikatan batin yang kuat, lagipula mereka adalah anak yang luar biasa. Tinggal bagaimana kita memahami, membentuk karakter dan memberi penguatan kepada mereka,” urainya lagi.

Dan yang paling mengenakan, mengajari siswa keterbelakangan mental. Karena mereka adalah anak-anak lucu serta menggemaskan perilakunya.  Tidak semua orang  mau melayani anak-anak seperti ini, butuh penerimaan dari pribadi masing-masing. Bertahan mengajari mereka, bukan dikarenakan gaji, namun merupakan panggilan tugas,” beber gadis tamatan Sekolah Tinggi Agama Kristen (STAK) Negeri Manado yang sejak 2015 silam, mengajar dan membagi ilmu di AGCA Center.

Keuletan, serta kesabaran, adalah kunci sekaligus trik Friska, mendidik siswa-siswanya.  Kalau tidak bisa sabar pasti tidak akan betah bersama-sama dengan mereka, apalagi kalau mereka mengamuk. Selain itu, sesekali diperlukan ketegasan mendidik mereka, namun tegas penuh kasih sayang.

“Seperti pertama kali mengajar selalu dapat pukulan, karena belum tau cara menangani, tapi seiring waktu berjalan serta banyak belajar kepada senior, akhirnya bisa juga membuat mereka patuh. Dekaplah mereka, berikan pendidikan, jangan pernah malu jika memiliki anak yang berkebutuhan khusus, karena mereka adalah anak-anak yang special,” tutup wanita berambut pendek ini. (indah pesik)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional