Menu

Libatkan Tiga Pakar, Ditlantas Polda Sulut Bahas Polemik Transportasi Daring

  Dibaca : 64 kali
Libatkan Tiga Pakar, Ditlantas Polda Sulut Bahas Polemik Transportasi Daring
pakar IT dari Universitas Indonesia (UI) Prof. Riri Fitrisari saat membawakan materi diskusi publik. (FOTO:Indah/TelegrafNews)

TELEGRAFNEWS – Persoalan transportasi online (Daring) menjadi masalah mendasar yang terjadi disetiap daerah, apa lagi di kota-kota yang mengalami tingkat pertumbuhan dan perkembangan pesat, seperti di di Manado, Sulawesi Utara.

Mencari solusi mengenai permasalahan transportasi online, Polda Sulawesi Utara (Sulut) melalui Direktorat Lalulintas (Ditlantas), melakukan diskusi dan menghadirkan tiga pakar dari universitas ternama di Indonesia, Kamis (12/4) 2018.

Ketiganya yakni, pakar IT dari Universitas Indonesia (UI) Prof. Riri Fitrisari, pakar transportasi dari UI Prof. Ellen Tangkudung dan pakar hukum dari Universitas Gajah Mada (UGM) Dr. Dian Wicaksono.

Diskusi ringan disertai kopi bareng masyarakat, berlangsung bilangan Kecamatan Sario, mengusung tema ‘Polemik Fenomena Transportasi Daring’ disambut antusias.

Menurut Riri Fitrisari pakar IT yang pernah menempuh pendidikan di salah satu sekolah dasar Kota Manado, fenomena transportasi Daring adalah masalah global dan tahun ini adalah tahun keselamatan.

“Jadi tujuan kita bersama di tahun keselamatan ini adalah, memastikan bahwa kita dapat mengikuti ketentuan yang berlaku dari Pemerintah untuk menuju ke masyarakat yang lebih sejahtera dengan menggunakan teknologi dengan cara yang smart,” jelas Riri dalam dialog tersebut.

Senada dibeberan pakar Transportasi Nasional Prof. Ellen Tangkudung. Menurutnya, bertransportasi itu harus mengikuti aturan, sehingga tidak terjadi benturan.

“Dengan memahami dan mematuhi aturan dalam berlalu lintas, tentu persoalan transportasi baik online maupun tidak, itu bisa teratasi secara baik,” bebernya.

Tak hanya soal aturan, mengenai kenyaman berkandaraan terutama soal musik yang diputar dalam kendaraan, menjadi sorotan dalam diskusi publik itu. Hal itu ditanggapi Dirlantas Polda Sulut, Kombes Pol Ari Subianto. Menurutnya, persoalan pemutaran musik yang begitu mengganggu kenyaman penumpang dalam mobil angkutan umum biasa maupun online, tentunya bisa dikenakan sanksi.

“Tidak masalah jika memutar musik, tapi jika sudah mengganggu kenyamanan dan ketertiban umum maka akan kami berikan sanksi,” beber Subianto.

Sama halnya dengan Kapolresta Manado Kombes Pol Surya Kumara. Katanya, banyak transportasi daring roda 4 yang sering menunggu penumpang di pinggir jalan, kerap mengabaikan aturan berlalu lintas.

“Kalau seperti itu mohon maaf, anggota kami akan menindak sesuai aturan yang berlaku, ini wajib diwaspadai dan dipatuhi setiap pengemudi,” tandasya.

Dalam diskusi tersebut disimpulkan, bahwa angkutan Daring sudah terkualifikasi dalam UU no. 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan. Hanya saja, perlu adanya edukasi dan keterbukaan untuk menerima teknologi, penggunaan angkutan sepeda motor sebagai kebijakan transisional yang diatur dalam peraturan daerah, dibutuhkan aturan pelaksanaan secara teknis.

Dalam diskusi ikut dihadiri Wadah Asosiasi Online (WAO), Organda, Asosiasi Driver Online (ADO) Sulut, Jasa Raharja, Dinas Perhubungan Sulut dan Manado, dosen Fakultas Teknik Unsrat, jajaran lalu lintas, serta para driver online. (indah pesik)

 

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional