by

Hadang Paham Radikalisme, Garda NKRI dan Lintas OKP Gelar Dialog

TELEGRAFNEWS – Mendorong pemahaman anti radikalisme terhadap mahasiswa di Sulawesi Utara (Sulut), Ormas kepemudaan dan kemahasiswaan Garda NKRI Sulut, gelar dialog publik, Kamis (22/3) 2018 siang hingga sore, di aula Hotel Manado Bersehati, Wenang.

Mengusung tema ‘Merajut Kebhinekaan : Menolak Radikalisme Dari Utara Sulawesi’ dihadiri puluhan mahasiswa berbagai perguruan tinggi serta perwakilan organisasi kepemudaan )OKP) tersebut, mendatangkan pembicara kawakan, seperti Ketua MUI Sulut KH Abdul Wahab Abdul Gafur Lc, Ketua Pemuda Katolik Lexi Mantiri, pemuda GMIM Feki Korto.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Garda NKRI Fino Mongkau, mengatakan, mahasiswa dan pemuda memiliki peran penting terhadap menjaga dan merawat kebhinekaan di bangsa ini. Kata dia, Sulut merupakan daerah yang paling dianggap final dalam bertoleransi.

Di Sulut, lanjutnya, masyarakat berbagai macam suku dan agama, tinggal berdekatan berdampingan sejak berabad-abad lalu, mari bersama-sama kita perlihatkan ke seluruh Indonesia bahwa Sulut adalah laboratoriumnya toleransi dan pluralisme.

“Datanglah belajar ke Sulut jika ingin merasakan langsung keberagaman yang hakiki,” ungkap Mongkau yang juga putra Bumi Nyiur Melambai.

KH Abdul Wahab Abdul Gafur Lc, selaku pembicara menuturkan, radikalisme sudah ada sejak dahulu kala, sejak awal mula manusia diciptakan. Jadi menurutnya, generasi muda harus berperan penting dalam mengawal dan menghalang masuknya paham radikalisme yang begitu kencang merong-rong keutuhan negara Indonesia.

“Apalagi kita ketahui bersama kampus-kampus merupakan sasaran empuk bagi paham radikalisme. Sehingga itu, penting didorong dialog dan diskusi-diskusi seperti ini. Yang didalamnya berisi mahasiswa serta pelajar, sebagai benteng yang terdidik,” terang Kyai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) itu.

Ketua Pemuda Katolik Lexi Mantiri mengungkapkan, agama mana pun di dunia tak ada satupun yang mengajarkan paham radikalisme. Kata dia, gerakan-gerakan ekstrim saat itu terjadi karena murni kepentingan politik, seperti apa yang terjadi di Timur Tengah saat ini.

“Di Sulut menurut saya sudah final. Kerukunan di daerah ini sudah menjadi kajian para pakar. Banyak yang datang ke Sulut hanya ingin melihat bagaimana kehidupan masyarakat yang hidup bersama-sama di atas golongan yang berbeda-beda,” terangnya. (man/redaksi)

 

Image and video hosting by TinyPic

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed