by

Puncak Festival Tamporok DK Minut, Dialog dan Penobatan Duta Budaya

TELEGRAFNEWS – Puncak Festival Tamporok yang digagas Dewan Kesenian (DK) Minut, berlangsung sukses pada Rabu (27/12) 2017, malam, di Sutanraja Hotel. Malam final dan penobatan Duta Budaya Rera Taretumou Minut dalam puncak Festival Tonsea 2017, yang menghadirkan 16 finalis dari 31 peserta yang tersebar di Minahasa Utara, berjalan sukses.

Setelah melewati empat tahapan seleksi serta pembekalan oleh sejumlah instruktur. Diantaranya Dra Femmy Pangkerego, DR Peggy A Mekel (akademisi/pemerhati budaya), Donna Keles (seniman/Ketua Harian Dewan Kesenian Sulut) dan pembekalan khusus budaya Tonsea oleh Mayjen Lodewyk Pusung, Festival Tamporok akhirnya menobatkan sejumlah finalis sebagai duta budaya.

Mereka adalah, Grachita Inggrid Sumampouw asal Lembean Kec Kauditan sebagai Rera Minut, Toardy S Pontoh asal Sarongsing I Airmadidi sebagai Taretumou Minut dan Meysilia Kambey sebagai Rera Favorit 2017.

“Ketiganya berhak meraih hadiah tour 4 pulau di Nusantara pada 2018, mendatang,” kata Jean Waturandang selaku pantia Festival Tamporok 2017 kepada TelegrafNews, Jumat (28/12).

Menurutnya, sejak awal digelar, Festival Tamporok mendapatkan respons positif masyarakat, pelaku budaya maupun peserta. Karena dinilai sangat efektif untuk membina dan membekali generasi muda.

“Ini adalah bagian dari pelestarian budaya sebagai filter (penangkal) atas pengaruh budaya luar seiring dgn kemajuan jaman masa kini dan akan datang,” beber Waturandang.

Mayjen L0dewyk Pusung selaku pemerharti budaya, menjelaskan, pentingnya penguatan dan menjaga kwalitas hidup berbudaya, karena salah satu ancaman menghancurkan sebuah bangsa adalah cukup hanya dgn merusak budayanya.

“Kiranya Festival Tamporok, bisa menjadi agenda tahunan sehingga pelestarian budaya Tonsea bisa terus dilestarikan dan tidak terkikis dominasi budaya asing,” pesannya.

Selain penobatan duta budaya, Festival Tamporok juga diawali diialog budaya menghadirkan Mayjen TNI Lodewyk Pusung (Sesepuh Paimpuluan Ne Tonse Jabodetabek) sebagai pembicara, Festival Tamporok dihadiri berbagai unsur masyarakat, meliputi tokoh masyarakat, pemerhati budaya, mantan-mantan hukum tua (Kumtua), LSM, pimpinan Sanggar Seni Budaya, mahasiswa, pelaku seni.

Mengusung tema ‘Dampak Era Globalisasi pada Pelestarian dan Pengembangan Budaya Daerah’ dialog merajut kejayaan buda Tonsea ini, turut melibatkan Drs Sompie SF Singal MBA (Budayawan/Tokoh Masyarakat), Melky Jakhin Pangemanan SIP MAP (intekektual muda).

Pada puncak Festival Tamporok juga dilakukan ibadah Natal kerasama Dewan Kesenian Sulut dan Dewan Kesenian Minut, bersama komunitas seni budaya, serta atraksi kesenian Kolintang Primavista Lembean, Tetambaken (lagu-lagu rakyat) oleh Sanggar Esa Man Ta Kaima, dan Tim Kabasaran Bitung pimpinan Loudy Lamia. (man/redaksi)

Image and video hosting by TinyPic

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed