Sukses FFI 2017, Bagaimana Peluang dan Tantangan Pariwisata Sulut ?

  • Whatsapp
Catatan
Rahman Ismail. (telegrafnews)

Catatan: Rahman Ismail

GELARAN Festival Film Indonesia (FFI) 2017, Sabtu (11/11), membuat Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut), dijadikan tranding topik. Pemberitaan tentang Manado, disiarkan semua media, baik lokal, nasional maupun internasional. Gaung pemberitaan media, tentunya baik bagi Sulut yang gencar-gencarnya mempromosikan potensi daerah lewat pariwisata.

Read More

Bukan cuma itu, mata insan perfilman se-antero Indonesia bahkan dunia juga tertuju di daerah kelahiran Gubernur Olly Dondokambey ini. Tercatat 400 pelaku dunia perfilman tanah air, seperti sutradara, produser, artis dan aktor top Indonesia ‘membanjiri’ convetion hall, Grand Kawanua International City yang menjadi lokasi digelarnya FFI 2017. Sukses FFI 2017, sejogjanya tak hanya menjadi magic secara seremonial, mengingat promosi wisata menjadi tujuan utama gubernur, hingga membondong hajatan yang menelan anggaran Rp10,6 miliar lewat APBD 2017 ke Bumi Nyiur Melambai.

“Hal ini merupakan bukti bahwa pemerintah dan masyarakat Sulawesi Utara mendapatkan apresiasi dari pemerintah pusat lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, memilih Sulut, sebagai salah satu destinasi wisata menarik untuk dipromosikan dan dikunjungi. Kepercayaan ini akan senantiasa ditunaikan dengan mengerahkan segala potensi yang ada di Sulut,” begitu penegasan Gubernur Olly Dondokambey dalam gelaran FFI.

Menahkodai Sulut 2016 silam, sosok Olly Dondokambey mampu menyihir banyak kalangan. Sulut selalu menjadi daerah pilihan digelarnya event-event berskala nasional hingga internasional, giat memajukan dunia pariwisata terus digaungkan, guna mempercepat terwujudnya Sulut berdikari dalam ekonomi, berdaulat dalam politik, dan berkepribadian dalam budaya.

Hitung-hitungan data, angka kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara, menglamai peningkatan siknifikan sepanjang 2017. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dirlis pada 6 Oktober mencatat, Wisman yang datang ke Sulawesi Utara (Sulut) melalui pintu masuk bandara Sam Ratulangi (Samrat) pada Agustus 2017 sebanyak 8.886 orang atau meningkat sebesar 21,64 persen dibanding Juli 2017 yang berjumlah 7.305 Orang. Ada kenaikan 12,42 persen dibanding bulan yang sama tahun 2016.

Warga Tiongkok mendominasi kunjungan ke Sulut sebanyak 7.193 orang (80,95 persen), disusul Singapura 241 orang (2,71 persen), Jerman 162 orang (1,82 persen). Hongkong 154 Orang (1,73 persen), Amerika 140 Orang (1,58 persen), Jepang 134 Orang (1,51 persen), Malaysia 96 Orang (1,08 persen), Inggris 90 Orang (1,01 persen), Perancis 80 Orang (0,90 persen), Australia 55 Orang (0,62 persen). Sepanjang Januari sampai November 2017, total wisman mencapai 75 ribu orang sementara turis domestik berada diangka 1,6 juta.

Meningkatnya kunjungan wisatawan, menjadi bukti keseriusan Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw, menggairahkan kemajuan dunia pariwisata Sulut. Begitu juga, 15 kepala daerah di kabupaten/kota, ikut mendorong pengembangan pariwisata. Sinergitas tersebut ditunjukan lewat rapat koordinasi kepala-kepala dinas pariwisata pada 17 Januari 2017 silam di Hotel Peninsula.

Secara kasat mata, pertumbuhan ekonomi Sulut berjalan baik, pariwisata menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi mikro maupun makro. Sayangnya, pertumbuhan ekonomi melalui sektor pariwisata belum mampu mendorong dibukanya lapangan pekerjaan, sesuai data BPS hingga Oktober 2017, masih ada sekitar 80 ribu warga Sulut berstatus pengangguran, rata-rata dari mereka berpendidikan Sarjana.

Tingginya angka kunjungan wisatawan, ternyata berbanding terbalik dengan perbaikan infrastruktur sarana dan prasarana destinasi wisata Sulut yang tersebar di 15 kabupaten/kota. Objek-objek pariwisata, belum sepenuhnya terawat dengan baik, pada beberapa lokasi seperti Bunaken, kondsinya tidak terawat bagus.

Kondisi ini menjadi momok besar pemerintah Sulut dibawah kepemimpinan Olly Dondokambey dan Steven Kandou. Ke depan, Sulut tidak hanya sukses menggenjot wisata lewat promosi seremonial yang menghabiskan anggaran miliaran rupiah, namun harus ditunjukan lewat perbaikan, dan peningkatan sarana infrastruktur. Itu penting, sebab ini merupakan peluang sekaligus tantangan, bagi Pemprov Sulut membangun potensi wisata yang aman dan nyaman bagi wisatawan, sehingga mereka lebih betah dan berlama-lama berkunjung ke Sulut.

Terlepas dari semua itu, apresiasi setinggi-tingginya patut diberikan ke duo punggawa Sulut, Olly Dondokambey dan Steven Kandouw. Duet pasangan gubernur dan wagub ini, mampu membawa gerbong perubahan dan kemajuan daerah lewat pariwisata.

Hajatan FFI telah berakhir, misi promosi wisata terus dikumandangkan pemerintah Sulut. Semoga suksesnya FIF 2017, menjadi titik awal Sulut dijadikan daerah untuk pembuatan film-film berbagai gendre. Setidaknya lewat pembuatan film, lokasi-lokasi wisata yang dimiliki Bumi Nyiur Melambai, kian terkenal hingga ke se-antero dunia, dan mimpi menjadikan Sulut sebagai destinasi baru pariwisata terwujud. (***)

jasa website ok

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.