Menu

20 Agustus 1983, Berpulangnya ‘Broer’ Tumbelaka, Gubernur Pertama Sulut

  Dibaca : 521 kali
20 Agustus 1983, Berpulangnya ‘Broer’ Tumbelaka, Gubernur Pertama Sulut
Frist Johanes Tumbelaka atau yang lebih dikenal Broer Tumbelaka (Kiri, berkacamata), Gubernur pertama sekaligus Ketua DPRD Provinsi Sulut. (Foto: ist)

20 AGUSTUS 1983 dini hari silam, di Rumah Sakit Pusat TNI-AD (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, Frist Johanes Tumbelaka atau yang biasa dipanggil Broer Tumbelaka, menghembuskan nafas terakhir.

Disaat wafat di ruang rawat inap VIP RSPAD Gatot Soebroto tersebut, Broer selain dijaga oleh sang isteri dan ke 2 anaknya, juga didampingi secara khusus oleh Asisten Sospol Kasospol ABRI Mayjend Goenarso SF dan Tokoh Permesta Kolonel Lendy Tumbelaka. Jenazah Broer Tumbelaka dimakamkan 2 hari kemudian di Taman Makan Pahlawan Nasional, Kalibata, Jakarta.

Broer dikenal sebagai Tokoh Utama dalam Penyelesaian Pergolakan Permesta, dimana dia sukses mengajak A E Kawilarang, DJ Somba, Wim Tenges, Abe Mantiri, Lendy Tumbelaka dan pasukan yang berjumlah sekitar 25.000 personil dengan sekitar 7.000 pucuk senjata kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi. Langkah Broer Tumbelaka ini ditulis khusus oleh Goenawan Mohamad pada Catatan Pinggir di majalah Tempo dengan judul : Broer.

Dalam kiprahnya di Sulawesi Utara (Sulut), Broer pernah menjadi Wakil Gubernur Sulawesi Utara-Tengah (Sulutteng) dengan tugas khusus memulihkan keamanan, Penjabat Gubernur Sulawesi Sulutteng, Gubernur Sulutteng (merangkap Ketua DPRD Sulutteng) dan Gubernur pertama Sulawesi Utara (dulu Sultara, sekarang disingkat Sulut) dan juga merangkap sebagai Ketua DPRD Pertama Sulut.

Pada masa menjadi Gubernur Sulutteng dan sekaligus Ketua DPRD Sulutteng, Broer Tumbelaka bersama dengan para tokoh berhasil menyakinkan pemerintah pusat untuk melakukan pemekaran dan membentuk Provinsi Sulut yang ditetapkan dalam UU No.13 Tahun 1964 pada 23 September 1964.

Diketahui, Broer Tumbelaka adalah anak bungsu dari 5 bersaudara keluarga Dokter Tumbelaka-Sinyal, keturunan suku Minahasa. Ia dibesarkan oleh keluarganya di Jawa Timur. Ia menikah dengan Neltje Zus (Ticoalu) Tumbelaka, BA, dan anak-anaknya Fajar Yahya Tumbelaka dan Taufik Tumbelaka.

Pada awalnya, dia merintis karier sebagai tentara hingga menjadi perwira senior di Divisi Brawidjaja (sekarang Kodam V/Brawijaya). Ia sempat mengepalai Batalyon 17 semasa Perjanjian Roem-Roijen. Setelah berhenti menjadi tentara, Broer kemudian sempat bekerja sebagai kontraktor sipil di Jawa Timur.

Pada masa pergolakan Permesta di Sulawesi, Broer Tumbelaka berperan penting dalam upaya penyelesaian masalah tersebut. Inisiatifnya diawali pada bulan Oktober tahun 1959, yaitu dengan menghubungi Kolonel Surachman, komandan Divisi Brawidjaja. Dirinya selanjutnya secara aktif menghubungi para tokoh Sulut yang terlibat pemberontakan tersebut. Pertemuan perundingan diawali 15 Maret 1960 di desa Matungkas, wilayah Tonsea, antara Tumbelaka selaku Wakil Gubernur Sulawesi Utara dan Tengah serta Overste DJ Somba selaku Panglima KDM-SUT (Permesta), dan berlanjut dengan pertemuan-pertemuan lainnya, hingga akhirnya pada 4 April 1961 terjadi upacara perdamaian di Malenos, Amurang Timur. Atas jasa-jasanya, Tumbelaka dianugerahi sekitar 12 bintang jasa dari Pemerintah RI. (*/pribadi/wkpd)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional