Menu

Ibu dan Anak Meninggal Dalam Kandungan, Pemprov Malut Didesak Gugat RSUP Kandou

  Dibaca : 3812 kali
Ibu dan Anak Meninggal Dalam Kandungan, Pemprov Malut Didesak Gugat RSUP Kandou
Muhammad Noval Adam SH. (ist)

TELEGRAFNEWS – Meninggalnya pasian ibu dan bayi dalam kandungan, asal Tobele, mengundang empati berbagai pihak. Bahkan, Pemerintah Provinsi, Maluku Utara (Malut), didesak turun tangan dan melayangkan gugatan ke RSUP Prof Kandou, Manado, Sulut, mengenai masalah tersebut.

Desakan itu, disampaikan aktivis Malut, Mohammad Naoval Adam, SH. Kepada TelegrafNews, Senin (8/5) 2017 malam, Nouval mengatakan. kalau benar, kejadian meninggalnya pasian ibu dan bayi dalam kandungan, disebabkan adanya unsur kelalaian atas pelayanan dari tim medis di RSUP Prof Kandou Manado. Maka, sudah selayaknya Pemprov Malut,  menindaklanjuti persoalan tersebut, termasuk melayangkan gugatan secara hukum.

“Sebagai warga Malut, kami menyayangkan ada warga dari daerah kami yang datang berobat di RSUP Kandou, namun sistem pelayanan seperti itu. Ini perlu ditelusuri, sebab menyangkut nyawa manusia,” tegasnya.

Lanjut aktivis jebolan Universitas Sam Ratulangi, Manado, ini, pihak RSUD Manado harus bertanggungjawab, memberikan keterangan resmi, sebab kelalaian merupakan unsur kesengajaan.

“Pemprov Malut, wajib turun tangan menindaklanjuti persoalan ini dan melayangkan gugatan hukum ke RUSP Kandou, Manado,” tandasnya.

Diketahui, Hesty Toweka (31), warga pendatang dari Tobelo, Halmaher Utara, bersama bayi dalam kandungannya berusia delapan bulan. Meninggal di RSUP Kandou,  Senin (8/8) pagi, sekira pukul 06.00 Wita. Korban adalah pasien rujukan dari Tobelo, sejak April lalu.

Dirawat inap di Irina D RSUP Prof Kandou, keluarga menyesalkan proses penanganan medis. Menurut mereka, korban masa kehamilanya sudah memasuki 8 bulan lebih itu, tidak mendapatkan pelayanan yang semestiny Keluarga masih  bersabar hingga, Rabu (3/5) 2017 lalu. Oknum dokter mengatakan, kalau korban akan dioperasi. Tapi sayangnya, janji dari oknum dokter itu tidak dibuktikan. Sebab, tanpa ada pemberitahuan, jadwal operasi ternyata batal dilakukan.

“Dokter telah menyampaikan kepada kami, bahwa korban akan dioperasi. Tapi anehnya, jadwal itu ternyata tidak dilakukan, dan mereka tidak menjelaskan apa penyebab sehingga proses operasi tidak dilakukan. Pasien memang peserta BPJS, namun kami juga sempat bilang, jika ada biaya operasi, kami siap membayarnya, asal korban mendapatkan penanganan yang baik,” sesal suami korban Desti Kalibato. mereka.

Mengetahui operasi batal dilakukan, Jumat (5/5) kondisi pasien kembali memburuk dan langsung dipindahkan ke ruang ICU. Dan tangisan keluarga akhirnya pecah, setelah Senin (8/5) pagi, ibu malang ini dinyatakan meninggal bersama bayi didalam kandungannya. Kesal dengan penanganan yang diduga kurang optimal, suami dan ayah korban langsung mendatangi ruangan direktur utama dan setelah itu, keluarga melampiaskan kekesalan mereka dengan nada keras di ruang pemulasaran.

“Saya bawa anak saya ke rumah sakit ini, karena informasi kalau rumah sakit Kandou ini pelayanannya sangat bagus. Tapi ternyata kami salah. Ibaratnya kami membawa anak dan cucu kami untuk dibunuh disini,” urai Erik Toweka selaku ayah korban. (daddy/redaksi)

 

KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional